
JAKARTA – Detik-detik upacara peringatan proklamasi di Istana Merdeka, Jakarta, selalu dinantikan, terutama saat barisan berpakaian serba putih dengan langkah tegap dan sepatu pantofel hitam menghujam aspal. Para pemilik tubuh tegap bertinggi badan nyaris sama yang memecahkan keheningan turut memberi kekhasan barisan istimewa ini.
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka, demikianlah masyarakat luas mengenal barisan putih-putih tadi. Paskibraka memiliki tugas khusus mengibarkan bendera merah putih.
Tugas Paskibraka tidak hanya berlaku di tingkat nasional di Istana Merdeka, tetapi juga di peringatan hari kemerdekaan di tingkat yang lebih rendah, termasuk provinsi, kabupaten/kota, dan instansi pemerintah di luar negeri.
Menjadi anggota Paskibraka memerlukan pemahaman yang baik tentang teknik baris-berbaris, dan untuk menjadi bagian barisan Paskibraka di Istana Merdeka, persyaratannya sangat ketat. Proses seleksi yang panjang di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional harus dilalui untuk menjadi anggota Paskibraka Istana.
Saat ini, ada sembilan syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota Paskibraka Istana, termasuk kesehatan jasmani dan rohani, tidak buta warna, dan pencapaian akademik. Setelah lulus seleksi, peserta harus mengikuti program pendidikan dan pelatihan di Bumi Perkemahan Nasional Pramuka Cibubur, Jakarta.
Sebanyak 76 anggota Paskibraka dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. Mereka bertugas dalam peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan RI di halaman Istana Merdeka.
Upacara pengukuhan ini juga melibatkan pengucapan ikrar sebagai Paskibraka yang dipimpin oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Presiden Jokowi juga memberikan lencana khusus kepada salah satu anggota Paskibraka, Kachina Ozora, yang menjadi pemimpin upacara dalam acara pengukuhan tersebut.
Bapak Paskibraka
Asal mula terbentuknya Paskibraka tidak terlepas dari peran penting Husein Mutahar, yang merupakan ajudan kepercayaan Presiden Soekarno. Ceritanya dimulai pada peringatan detik-detik proklamasi saat Indonesia baru genap dua tahun merdeka.
Saat itu, Jakarta masih tidak aman untuk menggelar upacara 17 Agustus, sehingga Kota Yogyakarta dipilih sebagai lokasi peringatan. Halaman Gedung Agung di Yogyakarta menjadi tempat upacara pengibaran bendera pusaka hasil jahitan Fatmawati.
Kukuh Pamuji dalam Komunikasi dan Edukasi di Museum Istana Kepresidenan Jakarta mengungkapkan bahwa Presiden Soekarno meminta Husein
Mutahar untuk mengatur upacara tersebut. Mayor Angkatan Laut itu berusaha keras memenuhi harapan Sang Proklamator untuk membuat peringatan 17 Agustus 1946 menjadi momen istimewa.
Pengibaran bendera pusaka semula direncanakan melibatkan pemuda dan pemudi dari seluruh Indonesia, tetapi situasi darurat pada saat itu membuat hal ini sulit dilaksanakan.
Sebagai solusi, Husein Mutahar memilih lima anak muda yang sedang berada di Yogyakarta, tiga perempuan dan dua laki-laki, untuk menjadi petugas pengibar bendera.
Menurutnya, kelima anak muda ini melambangkan lima sila dalam Pancasila. Husein Mutahar merancang seragam untuk kelima anak muda ini, terinspirasi dari pakaian militer Presiden Soekarno.
Pada saat itu, seragam Paskibraka laki-laki terdiri dari jas dan celana panjang putih dengan kaus dalam merah putih sesuai warna bendera Indonesia. Sementara itu, anggota perempuan mengenakan jas dan kaus dalam serupa dengan laki-laki, serta rok putih.
Semua anggota menggunakan peci, yang mirip dengan penampilan Soekarno yang selalu memakai songkok.
Upacara pengibaran berjalan sukses, dan Presiden Soekarno sangat puas dengan penampilan petugas pengibar bendera pusaka. Ia memuji Husein Mutahar atas kerjanya dan kemudian dikenal sebagai Bapak Paskibraka. Tampilan seragam Paskibraka ini terus dipertahankan selama ibu kota berada di Yogyakarta hingga awal 1950-an.
Istilah “Paskibraka” pertama kali digunakan pada tahun 1973 oleh Idik Sulaeman, adik Husein Mutahar. Ketika Soeharto menjadi Presiden pada tahun 1967, Husein Mutahar kembali ditugaskan untuk mengatur cara pengibaran bendera pusaka.
Bendera pusaka disimpan untuk menjaga keasliannya dan digantikan dengan bendera duplikat berbahan sutra. Mutahar kemudian diangkat menjadi Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pada saat itu, Paskibraka dikelompokkan berdasarkan tugas dan fungsi masing-masing. Ada tiga kelompok petugas Paskibraka yang memiliki simbol tanggal Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kelompok pertama, Kelompok 17, terdiri dari 25 anggota yang bertugas sebagai pengiring dan dipimpin oleh seorang komandan kelompok.
Kelompok kedua, Kelompok 8, adalah kelompok inti yang terdiri dari delapan anggota yang membawa bendera pusaka, serta empat anggota TNI yang berjaga di sisi kanan dan kiri barisan.
Kelompok terakhir, Kelompok 45, adalah kelompok pengawal yang terdiri dari 45 anggota TNI atau Polri dengan senjata lengkap, terbagi dalam empat kelompok yang dipimpin oleh empat komandan regu. Ketiga kelompok ini bertugas dalam upacara peringatan proklamasi di Istana Merdeka.
Sumber: indonesia.go.id




