Sejumlah Anak di Banaran ini Sebatang Kara Setelah Orangtua Tertimbun Longsor

Maya, anak yang ditinggal ayahnya meninggal akibat longsor terjatuh/ Viva

PONOROGO – Bencana yang longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur memang sudah berlalu, tapi tidak dengan kesedihan anak-anak  yang kini menjadi sebatang kara karena ditinggal orangtua mereka yang tewas tertimbun longsor.

Maya Febriani, salah satunya,  anak dari salah satu korban longsor Banaran, Muhammad Muklison yang masih amat sangat menyimpan kehilangan mendalam, bahkan saat diadakan tahlil dan doa bersama pada Senin (17/4/2017), bertepatan dengan kunjungan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang memberikan santunan pada para ahli waris, ia sempat limbung.

Menteri Khofifah sempat menyerahkan santunan kepada gadis manis itu. Sedikit ucapan menguatkan disampaikan Khofifah, Maya tiba-tiba limbung. Oleh petugas dari Kemensos, dia lalu dibawa ke Pusat Kesehatan Masyarakat yang berada tak jauh dari kantor kecamatan.

Menurut Tajib, koordinator TKSK Kemensos Ponorogo, sejak kecil Maya hanya tinggal berdua dengan ayahnya, Muhammad Muklison. Sementara ibunya, Rumini, bekerja di Hong Kong sebagai tenaga kerja wanita. “Maya dua bersaudara. Kakaknya perempuan (Westik) sudah tinggal di Ngawi jadi bidan,” katanya.

Sejak longsor menelan tubuh ayahnya dan belum ditemukan, Maya berkali-kali tidak sadarkan diri. Bahkan tiga hari dia sempat dirawat di rumah sakit, mungkin karena tekanan batin ditinggal ayahnya. “Mungkin karena selama ini hanya tinggal berdua dengan ayahnya, dia shock,” ujar Tajib.

Selain Maya, longsor Ponorogo juga menyebabkan beberapa anak lain jadi yatim-piatu. Yakni Hadi Purwanto (15 tahun) dan adiknya, Farhan Dwinata (13), yang kehilangan ayahnya, Menit. “Ibunya sudah lama meninggal,” papar Tajib.

Bocah bernama Brian lebih malang lagi. Dalam usia tujuh tahun dia ditinggal ayah-ibunya, Poniran-Suprapti, yang ikut tertimbun longsor Banaran dan hingga kini belum ditemukan. Ada lagi Henky Kurniawan (7) yang kehilangan ayahnya, Nadi. “Istri korban cerai lama dan pergi tidak ada kabar,” kata Tajib.

Untuk menghilangkan duka para keluarga yang ditinggalkan Mensos Khofifah mencoba menghibur seraya memberikan  santunan kematian diberikan kepada ahli waris korban masing-masing Rp15 juta. Dia meminta keluarga korban bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpa. “Yang sabar,” katanya sembari memeluk ahli waris korban, dikutip Viva.

Advertisement