NEWYORK – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait meningkatnya ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon. Guterres memperingatkan agar dunia tidak membiarkan Lebanon menjadi seperti Gaza.
“Hari ini saya merasa terdorong untuk menyampaikan keprihatinan mendalam saya terhadap eskalasi antara Israel dan Hizbullah di sepanjang Garis Biru,” kata Guterres kepada wartawan di New York, Jumat (21/6/2024)
Dia mengacu pada eskalasi retorika perang dari kedua belah pihak seolah perang besar sudah di depan mata.
Guterres memperingatkan bahwa satu langkah gegabah atau kesalahan perhitungan bisa memicu bencana yang melampaui batas dan tak terbayangkan.
“Mari kita perjelas, rakyat di kawasan ini dan rakyat di seluruh dunia tidak bisa membiarkan Lebanon menjadi seperti Gaza,” katanya.
Guterres menyoroti banyaknya korban jiwa dan orang yang kehilangan tempat tinggal karena rumah dan mata pencaharian mereka hancur.
Dia juga menyinggung pasukan Israel yang menyerang beberapa kota di Lebanon selatan dengan ledakan hingga menyebabkan kebakaran hutan yang menyebar dan mengancam wilayah permukiman.
“Bahan peledak yang belum meledak dan sisa-sisa perang berserakan di wilayah itu,” katanya.
Dia mendesak pihak-pihak terkait untuk menerapkan secara penuh resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701, segera menghentikan pertikaian, serta melindungi warga sipil.
“Anak-anak, jurnalis, dan pekerja medis tidak boleh menjadi sasaran,” katanya.
Guterres menolak solusi militer yang menurutnya hanya akan menyebabkan lebih banyak penderitaan dan kehancuran, serta potensi bencana lebih besar bagi kawasan.
“Sudah saatnya bersikap rasional dan masuk akal,” katanya, seraya mengingatkan bahwa pasukan perdamaian PBB di lapangan sedang berupaya meredam ketegangan dan membantu mencegah salah perhitungan.
Guterres menekankan bahwa penghentian permusuhan dan langkah menuju gencatan senjata permanen adalah satu-satunya solusi yang bertahan lama.
Dia juga menegaskan dukungan penuh PBB pada upaya diplomasi untuk mengakhiri kekerasan, memulihkan stabilitas, dan mencegah penderitaan rakyat lebih lanjut.





