Ditiru Guru Madrasah

Kepala madrasah dan guru kelas ditahan di Polres Wonogiri (Jateng) gara-gara mencabuli sejumlah muridnya.

DOSEN terlibat pelecehan seksual pada mahasiswinya, sudah menjadi cerita lama, karena saking buanyak dan seringnya. Eh, sekarang menyusul oknum guru madrasah ikut-ikutan pula! Ini terjadi di Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri (Jateng), seorang Kepala Madrasah bernama M (47) dan guru kelas Y (51) digiring ke Polsek mBatu gara-gara terlibat pelecehan terhadap 12 muridnya, masing-masing 6 murid. Kata Asmuni jika asih hidup, “Ini guru madrasah cap apa?”

Jika gogling di internet, dari Sabang sampai Merauke berjajar dosen-dosen cabul. Sambung menyambung menjadi satu, permalukan kampus-kampus dan almamaternya. Motifnya macam-macam, jadi dosen pembimbing mahasiswinya dibimbing ke ranjang. Maklum,  urusan mahasiswi cantik dosen killer pun bisa mendadak jadi ngiler.

Skandal seks antara dosen dan mahasiswinya tak perlu lagi disebut satu persatu, silakan pembaca googling sendiri. Dari situ jadi terbaca, betapa rendahnya moral para oknum dosen itu. Nilai bisa dibarter dengan baju mahasiswi yang dilepas satu helai demi helai. Jika mahasiswinya ridla, kasusnya takkan muncul permukaan. Tapi jika mahasiswinya merasa dilecehkan, baru jadi masalah besar karena jadi urusan polisi dan rektor pun harus ikut cawe-cawe. Karena soal cawe-cawe bukan monopolisi presiden.

Ketika pencabulan dosen pada mahasiswi terus akan menerkam korban baru, terbetik berita mengejutkan dari Wonogiri. Seorang Kepala Madrasah, M dan guru kelas Y dari sebuah madrasah di Baturetna diseret ke Polsek setempat karena terlibat pelecehan seks pada sejumlah muridnya. Cabuk (sambel wijen) Wonogiri memang enak, tapi cabul Baturetna sungguh bikin orangtua nyeseg di dada.

Kasus ini terungkap karena ada orangtua murid yang tidak terima, sehingga lapor ke polisi. Dari hasil pemeriksaan, ternyata Pak Kepsek dan salah satu anak buahnya, sama-sama berlomba dalam kebaji……ngan. Tragis memang, ketika berita dosen celamitan sudah menjadi terbiasa, kini setingkat madrasah pun ikut-ikutan pula. Karena narasinya madrasah, mau tak mau orang jadi berfikir melebar ke oknum-oknum ustadz di sejumlah ponpes yang juga banyak melakukan pelecehan seksual pada santriwatinya.

Jika istilahnya pelecehan seksual,  pengertiannya menjadi luas sekali. Meski sekedar kata-kata tak senonoh berbau cabul, itu sudah bagian dari pelecehan seksual. Meraba-raba bagian tubuh yang sangat rahasia bagi wanita, juga sudah bisa disebut pelecehan seksual. Apa lagi jika terjadi “koalisi” dua alat kelamin pria dan wanita, secara paksa pula, inilah pelecehan seksual yang sesungguhnya. Memang narasi pelecehan seksual menjadi terasa lebih halus ketimbang perkosaan.

Seks itu memang indah dan nikmat, tapi manusia sebagai makhluk yang memiliki akal budi yang dibingkai dalam agama, harus melakukannya secara terukur, tak bisa hantam krama macam hewan berkaki 2 atau empat. Agama apapun mengaturnya, seks hanya bisa dinikmati dalam ikatan perkawinan. Menikmati seks tanpa ikatan perkawinan, bisa disebut pelacuran meski di situ ada perikatan jual beli. Bila seks gratis tanpa perkawinan, itu namanya perselingkuhan, dengan catatan dua-duanya sama ridla melakukannya.

Bersyukurlah umat manusia, karena Allah memberikan karunia  berupa seks untuk menjadikan umat manusia berkembang biak dan bertebaran di muka bumi. Malaikat saja tak memperoleh karunia semacam itu. Soalnya, jika malaikat  memperoleh karunia tersebut, manusia bisa tidak kebagian. Semua akan diserobot dan dikuasai malaikat yang bisa menembus ruang dan waktu.

Karenanya manusia harus bijak menggunakan seks, tidak boleh sembarangan. Gunakanlah sebaik-baiknya di kala masih muda, ketika tubuh kita masih sehat dan perkasa, rosa-rosa macam Mbah Marijan. Soalnya,  meski masih muda dan halal pula, jika terkena penyakit gula atau diabetes melitus, percuma saja memiliki istri cantik, karena tak mampu mendayagunakan. Orang Yogya-Solo menyebutnya sebagai wastra lungset ing sampiran (barang bagus dianggurkan). (Cantrik Metaram)

Advertisement