JAKARTA (KBK) – Jurang ketimpangan ekonomi di Indonesia yang semakin melebar bisa diatasi melalui pemanfaatan sektor pertanian. Hal tersebut diungkapkan pakar ekonom INDEF Prof Dr Bustanul Arifin dalam paparannya dalam Seminar INDEF bertajuk ‘Mengurai Solusi Ketimpangan’.
Menurut Bustanul berdasarkan penelitiannya ketimpangan di Indonesia semakin memburuk sejak otonomi daerah. Dari penelitiannya tersebut Bustanul mengidentifikasikan masalah ketimpangan menjadi 4 bagian.
Pertama ketimpangan terjadi karena sektor pertanian yang semestinya bisa menyerap tenaga kerja tidak berjalan dengan semestinya.
“Karena pertanian merupakan mata percarian utama warga desa dan ketimpangan terdapat di desa” ujarnya (19/7).
Berikutnya pemerataan kepemilikan aset yang lebih banyam dikuasai persusahaan, buruknya sumberdaya dan infrastruktur serta kurangnya dukungan pemerintah yang kurang produktif di sektor pertanian.
Bustanul menambahkan harga beras di pasar Indonesia meningkat tajam dikarenakan tingginya biaya produksi sehingga petani lokal tidak mampu bersaing dengan beras impor.
“Masalahnya terjadi di hulu. SDM tidak jauh berbeda dengan negara tetangga. Tapi biaya tanam yang jadi masalah. Dua kali lipat, upah buruh tinggi, indonesia tidak mampu bersaing. Sekarang mahal mencari orang untuk memanen padi. Mangkanya beras Thailand masuk ke Indonesia. Buruh tani kita hanya lebih maju dari India,” jelasnya.
Solusinya dikatakan Bustanul dengan cara pembangunan pertanian secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Dibutuhkan keberpihakan pemerintan dalam hal pemasaran, pendistribusian, patokan harga dan penanaman.
“Saya usul reformasi agraria secara menyeluruh. Dalam pelaksanaannya petani harus didampingi. Beri jalan yang mudah ke pasar, pembeliam bibit dan distribusi,” ucapnya.
Solusi kedua ialah Industrialisasi pedesaan dengan kreativitas. Dikatakan Bustanul pembangunan pedesaan harus dengan metode kemitraan dimana usaha besar kecil saling membantu untuk menciptakan peluang lapangan kerja. Diluar itu desa juga didorong untuk lebih memanfatkan teknologi informasi seperti media sosial untuk jemput bola. Dengan begitu Bustanul menilai jurang kemiskinan di desa dengan kota dapat diminimalisir.





