BEDA zaman menyebabkan beda nilai. Dulu penjara untuk menghukum orang bersalah. Sekarang, penjara diganti menjadi LP (Lembaga Pemasyarakatan) untuk pembinaan. Orang yang terpaksa tinggal di sini bukan lagi dihukum, tapi dididik sehingga bisa kembali ke tengah masyakat dengan baik. Nah, karena konsep yang berubah dan diplintir-plintir inilah kemudian menimbulkan persoalan baru di LP. Napi berduit diutamakan, dan kisah sel Setya Novanto yang laksana hotel di LP Sukamiskin Bandung pun menghebohkan, membesar jauh lebih gede dari bakpao isi kacang ijo.
Dulu, apalagi jaman Belanda, penjara adalah ruang yang mengerikan untuk kalangan penjahat yang tertangkap. Jadi narapidana (napi) adalah sejarah hidup yang mengerikan sekaligus memalukan. Dia sekian lama tersiksa di balik tembok dingin, terampas kebebasannya dan terbatas gerakannya dan terbanting harga dirinya. Sebab ketika kembali ke rumah, akan dijauhi dan dicurigai lingkungannya.
Setelah era Orde Baru, wajah penjara pun berubah. Rumah penjara Cipinang di Jakarta, Wirogunan di Yogyakarta, Kedung Pane di Semarang, Lowokwaru di Malang, Medaeng di Surabaya, Sukamiskin di Bandung; bukan lagi tempat menyiksa dan menghukum napi atas kesalahannya, tapi untuk membina agar mereka kembali jadi orang baik, sehingga diterima masyarakat lingkungannya.
Karena konsepnya pembinaaan, celah ini kemudian dimanfaatkan oleh napi korupsi yang banyak duit. Dengan kemampuan uangnya sang napi bisa membeli fasilitas LP. Mereka tak mau makan menu LP, tapi pesan nasi padang. Di LP Sukamiskin, para kawanan eks koruptor itu makan “prasmanan” menu restoran sudah hal biasa.
Dulu Gayus Tambunan bikin heboh Rutan Mako Brimob, karena dia bisa jalan-jalan ke Bali. Dan sekarang Setya Novanto eks Ketum Golkar/DPR itu juga bikin heboh karena sel mewah miliknya. Napi lain pakai kasur butut dan closet jongkok, koruptor proyek e-KTP itu pakai kloset duduk, tempat tidur standar hotel.
Ketika Ombudsman beberapa hari lalu sidak ke sel Setyua Novanto. Kondisinya luar biasa untuk ukuran seorang napi. Terlihat sel itu mirip seperti kamar hotel suasana kamar yang sudah dirombak total. Permukaan lantainya bukan semen seperti yang terdapat di sel warga binaan tindak kejahatan biasa. Selain itu, tempat tidurnya menggunakan matras yang lebih bersih dan seperti tempat tidur di hotel. Dindingnya pun dilapis walpaper.
Di era gombalisasi ini, konsep pembinaan napi yang awalnya untuk pembinaan, akhirnya menjelma jadi pemanjaan. Para napi di LP Sukamiskin bisa bikin saung (gubug) untuk terima tamu-tamunya. Di LP Jakarta pernah diberitakan kamar petugas disulap jadi “bilik asmara” untuk memberi kesempatan napi melepas rindu bersama pasangannya. Bisnis narkoba lewat HP juga marak.
LP juga sudah berubah laksana supermarket. Setiap menjelang Lebaran atau tahun baru, banyak dikeluarkan diskon hukuman untuk para napi. Yang beragama Kristem juga dapat remisi. Bahkan layaknya pegawai, napi dapat cuti.
Karena itu pula ungkapan “masuk penjara nggak apa-apa wong di sana juga dikasih makan” jadi tambah populer. Kini orang tak takut masuk penjara. Penjara bukan hal yang memalukan. Malah sekarang bekas napi korupsi pun diberi peluang untuk beremain politik, meraih kembali masa kejayaannya. Luar biasa! (Cantrik Metaram)





