JAKARTA – Di atas kasur tipis Ariskan Agustini (19) hanya bisa beraring. Tubuhnya gemetar, mengejang tak beraturan sepanjang hari. Untuk bicara, Ariska mengalami kesulitan karena mulutnya disumpal kain.
“Disumpal kain supaya tidak menggigit lidah. Kadang kalau tergigit sampai berdarah-darah keluar dari mulutnya,” kata bibi Ariska, Chiecy Indah Nuraini (33) warga RT 23 Karang Jati, Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur.
Sepanjang kejang Ariska hanya bisa tengkurap sambil melipat kaki untuk meredam guncangan. Chiecy bercerita setelah Ariska lahir, kedua orang tuanya bercerai. Setelah diasuh sang nenek Ariska menyusul Sulistyowati ibunya ke Kutai Kartanegara.
Lama tak ada kabar, 6 tahun laluSulistyowati memulangkan Riska pada neneknya. Kondisi Ariska menyedihkan. Ia kembali dalam kondisi lumpuh sambil kejang-kejang. Setelah sang nenek wafat kini Chiecy yang mengasuh Ariska.
Chiecy mengaku cukup berat menangani semua itu. Terlebih suaminya, Udin Ferdinan (52), tidak ada di rumah lantaran dipenjara kasus narkotika. Apapun ia jalani, termasuk menjadi kuli cuci da jualan nasi dengan penghasilan Rp 30 ribu per hari.
Kaki yang bisa diluruskan merupakan pertanda bahwa Ariska kembali normal dari kejang. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dalam satu bulan Ariska hanya bisa kembali normal 2 kali.
“Itu pun kadang 4 hari kadang sampai 10 hari saja normal. Selebihnya kumat lumpuh begini,” tutur Cici sambil menyorongkan gelas berisi air kepada Ariska.





