Tak Lagi Indah Semalam di Cianjur

Cianjur yang begitu indah sebagaimana kata penyanyi Alfian, sejak semalam justru berantakan.

SEMALAM di Cianjur atau Cianjur sejak tadi malam, memang tidak lagi indah sebagaimana kata penyanyi Alfian 58 tahun lalu. Gempa 5.6 SR yang terjadi siang hari sebelumnya, menjadikan kota Cianjur berantakan. Listrik padam total, komunikasi HP putus karena 73 BTS down. Tenaga kesehatan menolong para korban luka dalam gelap, 700 orang luka dan dilaporkan 162 jiwa melayang.

Gempa itu menggoyang Cianjur kemarin siang sekitar pukul 13:21, di kala murid-murid SD –bahasa sekarang: peserta didik– kelas sore sedang belajar. Karenanya banyak korban para bocah. Misalnya di Madrasah Ibnu Ajudin Al Yasin di Cikancana, Kecamatan Gekbrong, 6 peserta didiknya tewas karena tertimpa patahan bangunan. Semoga saja para pemberi didik (guru) tak ada yang jadi korban. Sebab biasanya, ketika gempa terjadi di jam-jam belajar, banyak pula guru yang jadi korban.

Yang jelas Mendikbudristek Nadiem Makarim sudah bergerak cepat. Berkordinasi dengan Pemda Cianjur. Koordinasi itu untuk mengidentifikasi jumlah guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik serta fasilitas pendidikan yang terdampak gempa. Dampak gempa ini memang lebih parah ketimbang pandemi Covid-19. Soalnya mencegah Corona bisa ditempuh dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Sedangka akibat gempa, PJJ pun tak bisa dilakukan karena infrastruktur dan jaringan internet juga putus.

Beberapa jam setelah kejadian. Gubernur Jabar Ridwan Kamil sudah tiba di lokasi bencana, langsung menemui para korban. Data terakhir disebut Gubernur mencapai 162 tewas, warga yang mengungsi saat ini lebih dari 13.000 orang. Sementara, bangunan yang rusak parah, antara 60-100 persen, sebanyak 2.345 unit. Gubernur ikut menginap di tempat pengungsian.

Presiden Jokowi Selasa siang tiba di Cianjur. Tapi semalam telah menginstruksikan Menteri PUPR Basuki Hadimulyono ke lokasi bencana.  Menteri Basuki malam itu juga telah memimpin langsung pemulihan sejumlah jalan yang tertutup longsor,  di antaranya jalan raya Cianjur-Cipanas. Menurut Menteri Basuki, Insya Allah Selasa sore sudah selesai dibersihkan dan bisa dibuka kembali.

Ketua DPR Puan Maharani dari Jakarta atas nama DPR dan pribadi, Senin sore menyampaikan duka cita mendalam untuk para korban meninggal akibat gempa bumi yang melanda wilayah Cianjur dan sekitarnya. Dia juga minta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan stakeholder terkait dan para relawan guna mempercepat evakuasi korban. Lalu katanya, “Agar korban luka-luka segera mendapat penanganan.”

Ini ucapan normative dan sangat standar seorang Ketua DPR. Memangnya jika tidak diminta Puan Maharani, BNPB dan para tenaga kesehatan akan mendiamkan saja para korban? Nggak usah diajarilah! Mestinya Puan berani memerintahkan seluruah anggota DPR menyisihkan 50 persen gajinya untuk para korban gempa Cianjur. Ini baru top markotop.

Gempa Cianjur kebetulan terjadi menjelang Pemilu 2024. Biasanya orang Parpol dan relawannya akan segera turun ke lapangan dan buka posko. Hari ini memang belum terlihat, tapi mungkin besok mulai ada karena hari ini masih dipersiapkan. Ini bantuan sambil menyelam minum air. Kelihatannya ikut prihatin pada para korban, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam berharap, semoga ini menjadi “tabungan” electoral untuk Pemilu 2024, demi melanggengkan kedudukannya di Senayan.

Sayang ACT (Aksi Cepat Tanggap) sudah dibekukan. Jika masih ada pasti paling duluan buka posko. Sebab ini menjadi sarana paling mudah untuk menarik simpati para donator. Cuma belajar dari kasus musibah Boeing, di mana bantuan senilai Rp 138,5 miliar untuk para korban, yang disalurkan hanya Rp 20 miliar; bisa dipastikan dana dari masyarakat itu juga akan diselewengkan lagi. Yang disalurkan hanya sebagian kecil, sementara  sebagian besar sumbangan itu akan dikantongin lagi.

Hari ini  Cianjur masih berantakan, beda jauh dengan Cianjur 58 tahun lalu. Kata penyanyi Alfian (1964) dalam lagunya Semalam di Cianjur dia bilang: Kan kuingat di dalam hatiku, betapa indah semalam di Cianjur, tapi sayang hanya semalam, berat rasa meninggalkan…… (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

 

Advertisement