
GAYUNG bersambut menyusul penandatanganan naskah tentang kerukunan umat manusia antara Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE) Senin lalu (4/2).
Bagi Indonesia dimana narasi ujaran kebencian, hoaks dan fitnah termasuk politisasi agama untuk tujuan kekuasaan bersliweran di dunia maya akhir-akhir ini, peristiwa bersejarah itu hendaknya dijadikan momen mawas diri.
NKRI yang dibangun para pendiri bangsa dengan susah payah merajut 17.000 rangkaian pulau-pulau dan saat ini dihuni 250 juta penduduk dengan latar belakang sejarah, budaya, etnis, suku bangsa dan agama beragam bisa berantakan bila cara-cara seperti itu tidak dihentikan.
Tokoh-tokoh lintas agama seperti Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj, rohaniawan Katolik Frans Magnis Suseno dan mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-geraja Indonesia juga menyambut positif deklarasi Abu Dhabi antara Vatikan dan Al-Azhar itu.
Ulama dan pakar tafsir al-Quran Indonesia Quraish Shihab menyebutkan, deklarasi tersebut baru berupa tonggak dan perlu keras untuk mewujudkan cita-cita menuju kehidupan ajaran agama yang harmonis dan damai.
“Ini baru langkah awal untuk mengingatkan kita semua tentang prinsip agama yang walau berbeda-beda, bertujuan sama yakni untuk mewujudkan kedamaian dalam kehidupan dunia dan di hari kemudian nanti, “ ujar Shihab dalam orasinya di depan 400-an tokoh-tokoh lintas agama dan budayawan dari manca negara.
Shihab hadir pada acara deklarasi tersebut sebagai utusan Majelis Hukama Al-Islam (Tokoh-tokoh Bijak Muslim).
Tidak Perlu Mulai dari Nol
Sedangkan rohaniawan Katolik Romo Magnis-Suseno berpendapat, Indonesia tidak perlu memulai apa yang disebutkan dalam naskah deklarasi itu dari nol.
“Cukup baca teks (deklarasi tersebut) dan mewujudkannya menjadi nyata, “ ujarnya.
Deklarasi Abu Dhabi tersebut antara lain menyinggung kerjasama antara Gereja Katolik dan Lembaga Al-Azhar di Kairo untuk menyampaikan visi dan misi dokumen persaudaraan manusia itu ke berbagai komunitas dunia.
Di tengah gegap gempitanya kampanye Pilpres 2019, hendaknya para politisi, tim sukes dan calon pemimpin Indonesia sadar untuk lebih mengedepankan keutuhan NKRI dan kerukunan umat ketimbang kekuasaan yang hendak mereka raih.
Rakyat di level akar rumput juga harus cerdas untuk tidak sudi menelan mentah-mentah politisasi agama untuk tujuan kekuasaan, narasi hoaks, fitnah an ujaran kebencian.




