DIRJEN Pendidikan Usia Dini Kemendikbud mencemaskan, di tahun 2020-2030 mendatang 70 % angkatan muda terancam nganggur akibat rendahnya pendidikan. Data Kemendikbu tahun 2015 juga menyebutkan, siswa putus sekolah SD sebanyak 68.066 siswa dan siswa yang tak melanjutkan ke SMP sebanyak 946.013 siswa. Kata Harris Iskandar, pendidikan yang rendah itu akan melemahkan daya saing di pasar kerja.
Bahasa kasarnya, tanpa ijasah atau partisara yang memadai, orang menjadi kesulitan cari pekerjaan, dan pada akhirnya akan sengsara dalam hidupnya. Ungkapan itu 90 % benar, dan hanya 10 % bisa dianggap salah. Soalnya, yang 10 % itu hanyalah manusia-manusia enterpreneur, yang bisa hidup tanpa mengandalkan ijazah. Umumnya, hanya mereka yang punya partisara, bisa bekerja di sektor formal. Yang tanpa ijazah, terpaksa harus menggeluti pekerjaan sektor informal, dan itu tak selalu berhasil.
Orang berpendidikan tinggi, tanda pangkatnya di pundak atau di dada. Tapi orang tak berpendidikan atau kurang pendidikan, meski tanda “pangkat”-nya juga di pundak, bentuknya bukan bintang melainkan pikulan (memikul) atau di kepala (nyunggi) karena keseharian menjadi kuli, baik di pasar maupun pelabuhan. Upah atau gajinya kecil. Untuk bisa naik harus melalui demo tiap 1 Mei, menuntut kenaikan UMP (Upah Mininum Propinsi). Jaman sekarang dengan upah Rp 3.356.000,- (UMP DKI 2017) sebulan, apakah bisa hidup layak? Kecuali makan ala kadarnya, mirip lagu Bandar Jakarta-nya Menpen Maladi: “Awan mbayung, sore kangkung…….!”
Tanpa ijazah yang memadai, banyak anak muda bertahan di kampung halamannya, mayoritas jadi petani. Jadi petani pun bukan pemilik lahan, tapi hanya sebagai buruh belaka. Buruh macul, matun (menyiangi tanaman) sampai derep (menuai padi) dan nutu (menumbuk) yang sekarang banyak tergantikan oleh mesin perontok dan huller.
Sukamdani Gitosardjono pengusaha pemilik Sahid Grup, awalnya dari Carikan Kab. Sukoharjo (Jateng) adalah juga anak petani kecil. Dia mencemaskan dirinya bahwa hanya bisa munjung (bawa bingkisan) untuk mertua dengan kelapa sekanthet (sepasang) dan beras sekantong. Malu akan bayangan nasib seperti itu, Sukamdani nekad merantau ke Jakarta. Tapi tidak banyak pemuda punya tekad seperti dia.
Kebanyakan yang terjadi, dengan hidup tak punya ijazah memilih jadi TKI/TKW ke manca negara. Paling ekstrem, banyak pula yang memilih kawin dengan janda kaya dan punya usaha. Dia sehari-hari hanya petentang-petenteng pakai sepeda atau mobil “inventaris” dari istri. Lelaki model begini, oleh istri memang tak terlalu diharapkan kuat bekerja, karena yang penting rajin minum jamu atau obat kuat belaka.
Paling ironis, ada juga manusia tanpa partisara, tetap ingin “bekerja” di Ibukota. Bila ditanya orang sekampungnya, ngaku bekerja di sebuah instansi, padahal aslinya hanya jaga strom aki. Bagaimana untuk membiayai dan nomboki kehidupan sehari-hari? Dia tinggal SMS ke orangtua di kampung, minta BLT yang bukan dari Pak SBY. Tapi sampai kapan?
Maka benar kata Dirjen Pendidikan Usia Dini Harris Iskandar itu. Pendidikan rendah melemahkan daya saing di pasar kerja, sekaligus melemahkan daya beli keluarga. Di tahun 1935-an, RM Suryasuparto Mangkunagoro VII (1885-1944) sudah menyadari betul akan perlunya pendidikan tinggi. Maka putrinya, Gusti Nurul, meski sebagai bangsawan kraton dia bisa hidup dengan mamah karo mlumah (baca: melayani suami), tapi tetap disekolahkan ke pendidikan tinggi. Kata RM Suryosuparto, “Hanya manusia berpendidikan tinggi siap menghadapi tantangan jaman.” (Cantrik Mataram)





