JENEWA--Pada tahun 2015 lalu lebih dari 400 orang yang sepertiganya anak-anak di Suriah, Yaman, dan Ukraina tewas akibat bom curah.
Hal ini diungkap dari data koalisi internasional antibom curah di Jenewa.
Ketiga negara itu belum menandatangani perjanjian pelarangan penggunaan bom curah atau bom tandan.
Bom curah sampai tahun 2015 sudah membunuh 417 orang, sepertiga diantaranya adalah anak-anak, kata Koalisi Senjata curah, dan menambahkan, jumlah riilnya kemungkinan lebih tinggi.
“Warga sipil tetap menjadi korban bom curah,dan kebanyakan anak-anak,” kata Jeff Abramson, manajer program Pengawas Senjata curah dan Ranjau, salah satu lembaga dalam koalisi seperti dilansir AP,Kamis (1/9)
Bom curah umumnya dijatuhkan dari udara atau ditembakkan dengan meriam. Ketika meledak, senjata itu akan menyebar ratusan bom kecil di wilayah sekitar.
Namun, bom kecil terkadang gagal meledak dan sulit dipetakan keberadaannya. Seringkali, bom dapat membunuh dan membuat cacat warga walaupun konflik telah lama berakhir.
Senjata itu berisiko tinggi terhadap anak-anak, karena wujudnya seperti mainan dan berwarna terang.
“Sayangnya kita kerap menyaksikan banyak korban cedera akibat serangan, dan hal itu harus dikecam,” ujarnya dari Jenewa via telepon.
Abramson juga mengatakan, informasi masih terus direvisi, mengingat kesulitan proses pengumpulan informasi di lapangan, terlebih untuk wilayah konflik seperti Suriah.
Mayoritas korban bom curah pada 2015 berada di Suriah sebanyak 248 jiwa, Yaman 104 jiwa, dan Ukraina 19 orang, kata koalisi tersebut dalam laporannya.
Lima negara, yaitu Kolombia, Islandia, Palau, Rwanda, dan Somalia sejak Agustus 2015 telah meratifikasi perjanjian tersebut.
Kuba dan Mauritius turut menyepakati konvensi tersebut, hingga jumlah negara yang menerima isi perjanjian mencapai 119 negara.





