Seperti Kota Kuburan

Penanaman pohon kamboja di Jl. Damai PBSI berebut dengan pohon mahoni dan angsana yang lama.

SEHARI setelah menjabat, Pj Gubernur DKI Heru Budi Hartono instruksikan Walikota seluruh DKI tanam 600-1000 pohon pelindung di wilayah masing-masing. Di Jaktim, Walikota M. Anwar bergerak cepat tanam pohon-pohon penghijauan di bawah tol Becakayu. Gantian Walikota instruksikan ke Camat dan Lurah di wilayahnya melakukan hal serupa di wilayah masing-masing. Karena kebanyakan yang ditanam pohon kamboja, sekian tahun kemudian wilayah Jaktim bisa berubah menjadi seperti kota kuburan!

Ketika Pj Gubernur Heru menginstruksikan di TIM pertengahan Oktober 2022 (18/10), tujuannya untuk mencegah banjir. Jenisnya apa dan lokasinya di mana, terserah. Pokoknya sebanyak-banyaknya dan dikordinasikan dengan Dinas Pertanaman dan Hutan Kota (Distamhut). Gerak cepat Walikota Jaktim M. Anwar sempat juga dijadikan contoh oleh Pj Gubernur.

Karena jenis pohon untuk penghijauan tak ditentukan oleh Pj Gubernur, maka Walikota Jaktim memilih 3 macam, yakni: tembuya, kamboja dan umbi-umbian. Giliran sampai Camat Cipayung, perintah itu berubah jadi: pohon kamboja dan pohon angsana. Dan kini terlihat petugas PPSU sibuk menanam pohon kamboja di mana-mana.

Bahwa pepohonan mampu mencegah banjir, pasti diamini para ahli lingkungan hidup. Tapi tentu dilihat di mana pula lokasinya. Untuk Jakarta Timur khususnya Kecamatan Cipayung yang terletak di sebelah tenggara wilayah DKI Jakarta, dari dulu hingga sekarang sudah terkenal ijo royo-royo. Jika ada yang sedikit “ternoda” adalah wilayah Cilangkap.

Sebab sejak Orde Baru jatuh, rakyat jadi berani melanggar aturan. Dari dulu wilayah Cilangkap termasuk jalur hijau, sehubungan dengan kawasan Mabes TNI. Tapi begitu Pak Harto lengser, jalan raya Cipayung hingga Cilangkap kanan kiri jalan sudah penuh dengan bangunan baru. Bahkan ada pula perumahan megah tanpa IMB, hingga kini tetap berdiri kokoh. Padahal lokasinya tak jauh dari Mabes TNI.

Di lokasi inilah jika Camat Cipayung hendak menggalakkan penghijauan wilayah sesuai instruksi Walikota Jaktim. Tapi untuk Kelurahan Cipayung, khususnya di Kaveling DKI RW 08, bukan kebutuhan mendesak. Di lokasi ini, warga sudah menanam sendiri pohon-pohon pelindung di lahannya. Bahkan pohon angsana dan mahoni di Jl. Damai PBSI sering ditaping (pangkas) pasukan oranye untuk mencegah pohon ambruk atau sempal cabang-cabangnya.

Tapi pasca liburan tahun baru 2023, terlihat banyak petugas PPSU menanam pohon kamboja di kanan kiri Jl. Damai PBSI tersebut. Cara menanamnya pun sungguh tidak ideal jika merujuk ke ilmu pertanian. Bibit kamboja itu ditanam “berebut” dengan pohon mahoni dan angsana yang sudah ada. Jika pohon-pohon lama itu bisa ngomong seperti bulannya penyanyi Dul Sumbang, pastilah dia ngedumel, “Sonoan dikit dong, gue jadi gerah tauk….!”

Dua pohon mahoni yang ada sudah berjarak 3 meter, tiba-tiba dijejali satu batang kamboja baru. Lalu ada lagi yang jarak pohon lama hanya 6 meter, tiba-tiba diberi teman baru kamboja 2 batang. Sekian tahun ke depan, apakah pohon-pohon kamboja itu tidak saling menyangkut rerantingnya? Meskipun PPSU akan sering mentapingnya tetap saja tak enak dilihat. “Bikin sepet mata,” kata Asmuni Srimulat jika masih hidup.

Herannya, kenapa Camat Cipayung memilih pohon kamboja, yang sudah identik dengan pekuburan. Kenapa bukan misalnya ketapang kencana yang kini lagi ngetrend. Memang sih kamboja tinggal motong saja, gratis! Beda dengan ketapang kencana, harus beli yang dalam bentuki bibit saja Rp 25.000.- Rupanya untuk penghijauan ini anggarannya hanya nol rupiah, dan PPSU harus mencari sendiri.

Lalu perlu juga dipertanyakan, benarkah pihak Kecamatan Cipayung sudah kordinasi dengan Sudin Distamhut? Kalau iya, masak sampai sebegitunya pihak Sudin memberi pengarahan pada para PPSU. Yang jelas, jika semua lurah di Jaktim ramai-ramai menanam pohon kamboja sesuai instruksi Walikota M. Anwar, sekian tahun mendatang wilayah Jaktim jadi seperti areal pekuburan. Semoga saja nggak ada hantunya.

Sesuai instruksi Pak Walikota, mendingan tanam saja umbi-umbian, bisa dipanen hasilnya sekian bulan kemudian. Singkong goreng atau ubi rebus lumayan untuk teman ngopi petugas PPSU sebelum bersih-bersih lingkungan. Lagi-lagi tentunya, lokasinya harus tepat. Sebab masih banyak lokasi perkaplingan di DKI yang belum dibangun rumah oleh pemiliknya. (Cantrik Metaram).

Advertisement