TEHERAN – Pembom bunuh diri dan orang-orang bersenjata yang menyerang parlemen Iran dan makam Ayatollah Khomeini di Teheran pada hari Rabu (7/6/2017) telah menewaskan sedikitnya 13 orang.
Negara Islam mengaku bertanggung jawab dan mengancam lebih banyak serangan terhadap mayoritas Syiah Iran, yang dilihat oleh garis keras militan Sunni sebagai orang-orang yang sesat.
Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan dalam twitternya, “Orang-orang yang mensponsori teror mengancam untuk membawa pertarungan ke tanah air kita. Mereka menyerang apa yang kebanyakan tuan mereka benci, yakni kursi demokrasi.” kicaunya, dikutip Reuters, Kamis (8/6/2017).
Dia tidak secara eksplisit menyalahkan negara manapun, namun tweet tersebut tampaknya mengacu pada komentar yang dibuat oleh pangeran mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman al-Saud, pada bulan Mei, mengatakan bahwa Riyadh akan membawa pertempuran untuk pengaruh regional ke Iran.
Sunni Arab Saudi membantah terlibat dalam serangan di Teheran, namun serangan tersebut selanjutnya memicu ketegangan antara Riyadh dan Teheran saat mereka bersaing mengendalikan Teluk dan pengaruh di dunia Islam yang lebih luas.
Serangan muncul beberapa hari setelah Riyadh dan kekuatan Muslim Sunni lainnya memutuskan hubungan dengan Qatar, menuduhnya mendukung Teheran dan kelompok militan.
Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan bahwa dia tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa ekstremis Saudi terlibat.





