
RAKHINE – Lima orang rohingya telah tewas dan belasan lainnya terluka setelah sebuah helikopter militer menyerang sekelompok Muslim Rohingya yang mengumpulkan bambu di negara bagian Rakhine yang bermasalah di Myanmar.
Zaw Kir Ahmed, seorang pemimpin masyarakat, mengatakan kepada media pada hari Kamis (4/4/2019), bahwa serangan udara terjadi di sebuah lembah di kota Buthidaung dekat sebuah desa yang merupakan rumah bagi keluarga Muslim Rohingya.
“Serangan udara militer menewaskan lima orang, termasuk salah satu penduduk desa kami, sekitar jam 4 sore kemarin,” kata Ahmed dari desa Kin Taung. “Orang-orang di desa tidak berani keluar dan ketakutan.”
Maung Kyaw Zan, seorang anggota parlemen setempat, mengatakan beberapa yang terluka dibawa ke kota Buthidaung tetapi beberapa meninggal sebelum mereka mencapai rumah sakit, dan menambahkan lima jenazah telah ditemukan.
“Ketika saya berbicara dengan orang-orang yang terluka mereka mengatakan penembakan itu berasal dari udara, tidak ada bentrokan di tanah,” kata anggota parlemen tersebut, sebagaimana dilansir Press TV.
Rashid Ahmed, seorang buruh, mengatakan bahwa kakak lelakinya, paman dan keponakannya telah ditembak ketika mereka bekerja di lembah Sai Din. “Sebuah helikopter menyerang mereka ketika mereka sedang bekerja di sana, memotong dan mengumpulkan bambu.”
Dua warga desa lainnya juga mengatakan sebuah helikopter telah menyerang kelompok itu.
Stephan Sakalian, kepala delegasi di Myanmar di Komite Internasional Palang Merah, membenarkan bahwa tim dari organisasi tersebut telah mengunjungi Rumah Sakit Buthidaung di mana 13 orang dirawat karena luka, beberapa di antaranya “sangat membutuhkan pembedahan”.
Seorang juru bicara militer menolak mengomentari insiden mematikan terbaru, tetapi Mayor Jenderal Tun Tun Nyi, wakil ketua komite informasi militer Myanmar, mengatakan tentara akan merilis “berita nyata” tentang dugaan insiden tepat waktu.
Negara bagian Rakhine barat Myanmar menjadi perhatian global pada tahun 2017, ketika tentara mengusir ribuan etnis Rohingya melintasi perbatasan menuju Bangladesh. Myanmar menghadapi tuntutan internasional yang semakin besar untuk pertanggungjawaban atas pembantaian Rakhine.




