Sesama Aparat, Kok Bentrok

Perusakan dan pembakaran kantor polsek Ciracas, Jakarta Timur (12/12) diduga dilakukan oleh ratusan oknum tentara, bermula dari pengeroyokan terhadap perwira TNI oleh petugas parkir. Mereka tidak puas atas penyelesaian yang dilakukan polisi atas kasus tsb.

BENTROK antara aparat kepolisian dan satuan militer seperti terjadi pada kasus perusakan kantor Polsek Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (12/12) bukan yang pertama di negeri ini.

Kejadian diduga bermula karena kesalahpahaman antara seorang perwira pertama TNI dengan juru parkir di lahan parkir swalayan Arundina, berujung pengeroyokan terhadapnya.

Sekitar 200-an sebagian diduga rekan-rekan Kapten Komaruddin (korban) kemudian menyerbu kantor Polsek Ciracas, menganiaya kapolseknya, Komisiaris Agus Widar dan empat anggotanya serta merusak dan membakar sejumlah kendaraan yang diparkir di halaman polsek. Alasannya, mereka tidak puas atas penanganan kasus pengeroyokan terhadap Kapten Komarudin oleh petugas parkir dan konco-konconya.

Peristiwa anomali perkelahian atau bentrok sesama aparat bersenjata seperti itu sudah biasa terjadi di negeri ini, hanya saja, tidak semua terliput oleh media karena berbagai alasan.

Kasus yang tercatat a.l. pada 19 Nov. 2013, dipicu pemukulan oleh anggota Brimob terhadap seorang anggota TNI-AD berujung penyerbuan ke kantor Polres Karawang, kemudian pada 7 Agustus 2014, anggota Brimob yang sedang berjaga di markasnya di Cipanas diduga diserang oleh sejumlah anggota TNI.

Bentrokan antarsatuan militer di era Orde Baru, seperti dituturkan oleh Jenderal Benny Moerdani dalam bukunya, pernah terjadi hanya gara-gara saling ledek antara dua anggota kesatuan elite yang saat sama-sama berlatih defile di Lapangan Banteng, Jakarta pusat pada 1964.

Singkat cerita, “pertempuran” hampir meletus saat satuan RPKAD (sekarang Kopassus) bersenjata lengkap meneruskan persoalan itu dengan mengepung markas KKO (sekarang Marinir) di kawasan Kwini, Jakarta Pusat.

Konflik berdarah terhindarkan setelah Benni datang sendiri ke lokasi untuk melerai kedua pasukan yang dalam posisi siap tembak dan meminta komandan kedua satuan memerintahkan pasukan kembali ke pos masing-masing.

Kisah cukup seru lainnya, penyerbuan satuan elite Pelopor Brimob, Polri ke markas RPKAD di Cijantung pada 1968 karena mereka menduga, seorang anggotanya yang ditemukan tewas di atas angkot ditembak oleh satuan elite TNI-AD tersebut.

Sebagian satuan Brimob malah menduduki markas RPKAD, namun sudah dikosongkan lebih dulu, sehingga tidak terjadi kontak tembak. Konflik berhasil diselesaikan setelah komandan Brimob saat itu, AKBP Anton Sudjarwo (kemudian pernah menjadi Kapolri) turun tangan melerai.

Berbagai kasus bentrokan antaraparat lainnya, terjadi di berbagai tempat walau luput dari liputan media, atau diselesaikan secara internal dengan berbagai penyebab termasuk hal-hal sepele.

Senggolan sesama pengendara sepeda motor, saling melotot saat berpapasan, ribut di tengah keramaian, baking-bakingan, juga berebut pacar atau terlibat persoalan pribadi dan sepele lain juga sering menjadi pemicu perkelahian antaraparat atau satuan yang merenggut korban jiwa.

Selain dibawa ke meja hijau, kasus-kasus bentrokan, baik sesama anggota kesatuan atau antarkesatuan, tidak jarang diselesaikan secara internal atau kekeuargaan demi menjaga citra kesatuan. Ada juga yang diselesaikan dengan joget bersama, pesta dangdut dsb.

Tentu saja, walau kasus-kasus yang terjadi bersifat kasuistis, sanksi lebih keras harus dikenaka bagi para pelakunya, dan lebih penting lagi pencegahannya.

Kurikulum terkait etika dan saling hormat-menghormati, baik terhadap warga sipil, maupun antarsesama satuan polisi atau militer atau satu dan lainnya perlu diajarkan.

Selain keandalan fisik dan militer, anggota polisi atau tentara agaknya juga perlu diajarkan cara-cara penyeleaian konflik atau sengketa dan harus diingatkan pula risiko yang harus diterima bagi pelaku kekerasan apalagi menggunakan senjata api atau melakukan perusakan.

Penyelesaian sebatas kasus per kasus, terbukti tidak bisa menjamin kejadian serupa tidak terulang lagi, harus dicari akar permasalahannya, kenapa begitu mudahnya, aparat yang ditempa dengan disiplin itu, mengamuk atau melakukan kekerasan.

Selain merusak citra kesatuan, jatuhnya korban sia-sia, bentrok fisik yang terjadi antarsesama aparat bersenjata juga menjatuhkan citra negeri ini.

Aparat bersenjata sebagai sosok-sosok terlatih yang ditanamkan disiplin tinggi tentunya harus mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan sewenang-wenang.

Advertisement