Setya Novanto Jadi Petani

Setya Novanto (pegang sabit) tengah bertani di LP Sukamiskin, Bandung.

SUDAH bertitel sarjana, apa lagi pernah jadi pejabat tinggi negara, jarang orang mau jadi petani. Apa lagi sampai harus nyangkul dan babat-babat damen (batang padi) segala. Tapi Drs. Setya Novanto yang eks Ketua DPR dan Ketum Golkar, karena dipaksa otoritas LP Sukamiskin Bandung, terpaksa mau jadi petani. Dia dipaksa bertani bukan atas milik sendiri, tapi milik negara. Begitulah resikonya menjadi narapidana!

Sejeblok-jebloknya nasib Setya Novanto, dia belum pernah pegang pacul dan nyublek (terjun) ke lumpur pesawahan. Dia memang pernah jualan beras, pernah jualan madu keliling, bahkan sopir pribadi sebuah keluarga. Tapi harus berkutat dengan lumpur dan gatalnya bulir-bulir padi, amit-amit deh! Itu sama sekali tak pernah terpikirkan.

Beberapa hari lalu terpampang jelas di koran dan media online, bersama sejumlah napi lainnya dia terjun ke persawahan, pakai kudung dan pegang sabit, sementara wajahnya bercambang. Orang awalnya tak mengenali siapa dia. Hanya karena keterangan gambar di bawahnya saja yang membuat orang tahu bahwa dia sosok koruptor proyek e-KTP senilai Rp 5,9 triliun. Kerja terkutuk yang dilakukannya saat menjadi anggota DPR dan baru terkuak setelah dia menjadi Ketuanya.

Ketika masih jadi Ketum Golkar atau Ketua DPR 2 kali dalam satu periode, mana mau Setya Novanto berkotor-kotor seperti itu. Kalaupun ada acara peresmian panen raya di mana Ketua DPR atau Ketum Golkar diundang, paling-paling dia hanya bagian potong padi simbolis saja, bukan sampai harus ngrubyuk (terjun) masuk ke dalam lumpur.

Tapi karena dia kini statusnya sebagai napi dengan masa hukuman 15 tahun penjara –kalau belum dikorting MA melalui PK– mau tak mau harus mau menjalaninya sebagai petani padi di lingkungan LP Sukamiskin. Sesuai dengan program kemandirian sebagai warga binaan, diharapkan nantinya setelah bebas dari penjara Setya Novanto bisa mandiri punya keahlian untuk sumber kehidupannya.

Tapi sebagai mantan napi nantinya, apa masih perlu Setya Novanto punya keahlian bertani? Dalam usia 78 tahun saat bebas nanti, bukan Setya Novanto pun keluarganya pasti takkan mengizinkan kakek-kakek pergi ke sawah, bisa nyungsep di lumpur nanti! Dan Setya Novanto memang tak perlu itu semua. Sebab setelah bebas nanti, dia masih kaya raya, karena tak semua harta miliknya dinolkan alias disita semua untuk negara.

Cuma, menderita selama 15 tahun jauh dari istri dan anak-anaknya, mampukah bertahan? Begitulah nelangsanya jadi napi. Punya istri cantik, dianggurkan bak wastra lungset ing sampiran (baca: barang bagus dianggurkan). Mau ketemu keluarga dibatasi waktunya dan diawasi. Mau makan enak, harus beli sendiri, karena makanan jatah LP kurang bergizi.

Tapi sebagai napi Setya Novanto tentunya sependapat dengan Ahmad Dhani juragan band Dewa-19 bahwa lembaga pemasyarakatan adalah tempat “kuliah” jurusan kehidupan. Bahwa sapa salah kudu seleh (yang salah harus kalah). Dan ketika masih berjaya,  Setya Novanto lupa. Kebiasaan tukang ngobyek saat miskin dulu, masih dibawa pula ketika menjadi pejabat negara.

Misalnya saat masih duduk di DPR dan jadi bendahara Golkar, ngobyek atau jadi calo tagih utang (cesie) Bank Bali sampai dapat komisi Rp 546 miliar. Ini pernah jadi masalah. Tapi Setya Novanto lolos sementara Djaka Tjandra terlunta-lunta sampai jadi buronan negara. Kemudian sebagai Ketua DPR masih ngobyek minta saham PT Freeport sampai mencatut nama Presiden Jokowi segala.

Kasus “papa minta saham” sempat menjatuhkan dirinya sebentar, kemudian bangkit lagi. Tapi justru obyekan lama saat masih jadi anggota DPR terkuak di kemudian hari. Dia sempat dikejar-kejar KPK, baru tertangkap ketika mobilnya nabrak pohon dan jidatnya pun benjol segede bakpao isi kacang ijo.

Dari sinilah nasib Setya Novanto benar-benar terpuruk. Dalam sidang Tipikor dia dikenakan hukuman 15 tahun penjara. Selain harus bayar denda ratusan  juta sejumlah aset miliknya juga disita untuk negara. Masuk LP Sukamiskin Mei 2018, jika tanpa remisi Setya Novanto baru bebas Mei 2033, ketika usianya sudah 78 tahun. (Cantrik Metaram)

Advertisement