TANGSEL – Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa mengenalkan sosok relawan perempuan yang tergabung dalam aksi kebaikan Dompet Dhuafa.
Dia adalah Sheira Warinda (20), salah seorang relawan Crisis Center Covid-19 Dompet Dhuafa bagian kesehatan berbagi kisahnya seputar menjadi relawan Dompet Dhuafa.
Perempuan yang berdarah Lampung ini merupakan relawan yang baru tergabung dengan jejaring Dompet Dhuafa. Sebelumnya ia pernah turut membantu di RS.Fatmawati.
Meski menjadi perawat bukan pilihan utamanya, namun dia tetap semangat menekuni bidang ini. Awalnya ia tertarik menjadi seorang guru. Tetapi takdir berkata lain, ia kemudian masuk menjadi mahasiswi perawat di salah satu kampus Politeknik Kesehatan di Jakarta.
“Awalnya malah Sheira tertarik menjadi guru, tetapi entah kenapa akhirnya belajar menjadi perawat,”pungkas perempuan asal Negeri Besar, Lampung ini.
Sheira menjelaskan, jika aksi respon penanganan Covid-19 dari Dompet Dhuafa yang diikutinya kala itu mengantarkan pasien Covid-19 menuju rumah sakit darurat di wilayah Mampang, Selasa lalu (13/7/2021).
Saat bertemu pasien di perkarangan rumahnya, ia dengan lembut mencoba menenangkan pasien yang sedikit terlihat panik. Kemudian dilanjut dengan pemeriksaan suhu tubuh, tekanan darah hingga saturasi oksigen.
Beruntungnya, pasien pertama ini masih sanggup untuk bergerak sehingga pemindahan pasien menuju rumah sakit darurat menjadi lebih mudah.
Selanjutnya ia juga ikut mendistribusikan tabung oksigen gratis kepada pasien Covid-19 di rumahnya saat menjalani isolasi mandiri Jumat lalu (16/7/2021).
Kala itu, Jumat malam (16/7/2021) waktu menujukan pukul 22:00 WIB, tim Crisis Center Covid-19 Dompet Dhuafa dapat kabar bahwa terdapat dua pasien Covid-19 yang membutuhkan bantuan tabung oksigen di kediamannya saat melakukan isolasi mandiri.
Adapun dua pasien tersebut berada di Tangerang Selatan dan satu lagi di Bekasi.
Keluh kesah menjadi relawan medis memang sulit dipisahkan dari kehidupan Sheira. Sebelum aktif menjadi relawan di Dompet Dhuafa, ia pernah bercerita pengalaman dia merawat pasien di rumah sakit yang lain.
Pasien yang dirawat memiliki situasi yang berbeda-beda, namun yang sulit dilupakan ialah ketika kala itu salah seorang pasien diketahui hanya hidup sebatang kara.
Acapkali dia bersama perawat yang lain turut membantu dengan patungan untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan pasien.
“Serunya kita sampai ikut patungan untuk pasien. Entah itu kebutuhan sepele misal popok ataupun yang lainnya,” terang mahasiswi semester VI tersebut.
“Senang di saat kita bisa membantu. Sedih di saat pasien yang kita tangani telah tiada,”lanjutnya sambil membuka lembaran halaman buku puisinya yang ia baca.
“Kadang masih terngiang-ngiang wajah mereka,”tambahnya.
Meski begitu, Sheira tetap optimis dalam menjadi relawan kesehatan Dompet Dhuafa di momen pandemi Covid-19 seperti ini.





