Siap-siap: Harga BBM Bakal Naik

Harga BBM kemungkinan bakal naik jika perang antara Rusia dan Ukraina terus berlarut-larut sehingga memicu kenaikan harga-harga barang lainnya.

SETELAH direpotkan kenaikan harga kedelai, lalu kelangkaan dan juga lonjakan harga minyak goreng sejak November 2021, rakyat Indonesia harus siap-siap mengetatkan ikat pinggang lagi akibat bakal naiknya harga minyak global.

Harga minyak mentah yang sebelumnya pada kisaran 90 dolar AS per barel, sejak pekan lalu tembus di atas 100 dollar AS akibat dampak invasi Rusia ke negara tetangganya,  Ukraina.

Rusia, negara non-OPEC, menurut catatan, memproduksi minyak bumi sekitar 524 miliar juta ton per tahun atau 12,6 persen produksi global dan  638,5 milyar M3 gas alam (16,6 persen).

Pasokan migas terganggu akibat larangan impor migas oleh AS dan Uni Eropa, sebaliknya penghentian ekspor dari Rusia sejak awal invasi Rusia ke Ukraina, 24 Februari lalu.

Perang yang sudah berkecamuk lebih sebulan dan membuat sejumlah kota-kota besar di Ukraina luluh-lantak akibat gempuran dari darat, laut dan udara oleh Rusia, menewaskan sekitar 900 orang dan 3,6 juta warga Ukraina mengungsi, belum ada tanda-tanda berakhir.

Harga minyak mentah jenis Brent bahkan pernah bertengger 139 dollar AS per barel, pekan lalu, dan menurut Bloomberg, Kamis (24/3) tercatat 122 dolar AS, walau sehari sebelumnya sempat turun menjadi 12 dolar per barel.

Menteri ESDM Arifin Tasrif (24/3) menyatakan, pemerintah RI tidak akan buru-buru menaikkan harga BBM dalam negeri, walau ia mengakui, jika harga minyak global tidak turun-turun, pemerintahan terlalu berat untuk menanggung beban subsidi.

Menurut catatan, pemerintah menanggung  biaya subsidi untuk BBM, elpiji dan listrik sebesar Rp131,5 triliun (Rp83,7 triliun BBM dan elpiji serta Rp47,8 triliun listrik) pada 2021 dan ditargetkan Rp134 triliun (Rp56,5 triliun untuk BBM dandan Rp 77,5 triliun elpiji) pada 2022.

OPEC sendiri, menurut Menteri ESDM, menyatakan akan menjamin pasokan minyak mentah untuk mengisi pasar akibat berkurangnya volume pasokan dari Rusia, namun tidak bisa menjamin stabilitas harga.

RI sejak 1008 tidak lagi menjadi anggota OPEC karena produksi minyak mentahnya terus turun dan kini menjadi negara nett-importir minyak.

Pertamina sudah dua kali menaikkan harga BBM non-subsidi Pertamax Turbo, solar Pertamina Dex dan Dexlite, sementara di sektor ritel, harga Pertamax Turbo naik dari Rp13.500 per liter menjadi Rp14.500, Pertamina Dex dari Rp13.200 ke Rp13.700 dan Dexlite dari Rp12.150 ke Rp12.950.

Masalahnya, kenaikan harga BBM biasanya dikuti harga-harga lainnya, apalagi menjelang bulan suci Ramadhan dan Idhul Fitri dimana konsumsi barang-barang  kebutuhan pokok meningkat.

“Yang bisa dilakukan rakyat, cuma mengencangkan ikat pinggang!

 

 

 

 

 

Advertisement