
SUDAH jatuh tertimpa tangga, dialami oleh pengungsi etnis minoritas muslim Rohingya di pusat penampungan pengungsi di Distrik Cox’s Bazar, Bangladesh tenggara yang diterjang Siklon Mora, Selasa lalu (30/5).
Padahal, di lokasi penampungan tersebut, tanpa terjangan siklon Mora pun mereka hidup jauh dari kondisi normal, menghuni gubuk-gubuk darurat terbuat dari bambu dan berdinding lembaran plastik bekas, dengan keterbatasan sanitasi dan makanan.
Cox’s Bazar, lokasi penampungan 300.000 etnis muslim Rohingya dilaporkan menjadi kawasan terparah akibat terjangan siklon Mora yang sebelumnya menyambangi Sri Lanka dan India.
Etnis minoritas muslim Rohingya di lokasi penampungan Cox’s Bazar di wilayah Bangladesh, berdatangan dengan menyabung nyawa dari negara bagian Rakhine, Myanmar untuk menghindari perburuan aparat keamanan dan suku mayoritas setempat.
Mereka tersebar di sejumlah kawasan di Asia seperti Pakistan, India, Thailand dan Malaysia, yang terbanyak di Negara Bagian Rakhine, Myanmar (sekitar satu juta jiwa), namun baik Myanmar maupun Bangladesh sejauh ini tidak mengakui kewarganegaraan mereka.
Jumlah warga Rohingya yang melarikan diri dari Rakhine ke Cox’s Bazar terus meningkat sampai mencapai 70.000 orang sejak Oktober 2016 saat militer Myanmar membakari rumah-rumah mereka pasca insiden berdarah antara etnis Rohingya dan warga mayoritas setempat.
Pemimpin komunitas Rohingya di Cox’s Bazar Abdul Salam mengungkapkan, kerusakan parah terjadi di kamp pengungsi Balukhali dan Katupalong akibat terjangan badai Mora yang memporakporandakan sekitar 20.000 gubuk-gubuk hunian pengungsi .
“Gubuk-gubuk pengungsi rata dengan tanah disapu badai, “ tuturnya.
Berkecepatan 135 KM per jam
Topan Mora berkecepatan 135 Km per jam yang memicu gelombang laut setinggi dua meter di sepanjang pantai menimbulkan kepanikan para pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri menuju wilayah perbukitan di sekitar lokasi bencana.
Seorang penghuni kamp Zahir Ali menuturkan, sejumlah pengungsi yang panik, terutama perempuan dan anak-anak, mengalami luka-luka setelah mereka lari lintang- pukang ke atas wilayah perbukitan untuk menghindari serangan topan.
Yang lebih memprihatinkan, tidak ada seorang pun petugas dari pemerintah Bangladesh yang datang untuk memberikan peringatan dini dan sejauh ini belum ada bantuan bagi pengungsi yang sebagian terpaksa tinggal di alam terbuka tanpa ketersediaan makanan dan minuman.
Siklon Mora sebelumnya mengakibatkan tanah longsor dan banjir di Sri Langka yang merenggut 200 orang tewas dan setengah juta orang mengungsi, sebagian besar para penyadap di perkebunan karet Agalawatte, sekitar 74 Km sebelah tenggara ibukota, Kolombo. Negara bagian Bihar, India timur juga tidak luput dari terjangan topan Mora yang menewaskan 24 warganya.
Uluran tangan, terutama dari negara-negara Islam dan negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia sangat diperlukan oleh saudara-saudara kita, para pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar. (AFP/AP/Reuters/NS)




