
Haji Muhammad Soewarma, seorang pandu/pramuka wreda (senior) dan pengusaha sukses, Ahad, 6 Desember 2015, genap berusia 99 tahun. Ia masih tampak segar bugar, gagah. Rambutnya masih tebal, sekalipun sudah memutih. Penampilanya rapi, berdasi.
Peringatan milad menjelang usia satu abad Pak Soewarma di kediamannya di Jalan Sangkuriang no 7, Dago, Bandung, berlangsung meriah. Sekitar seratus orang lebih, termasuk istri, anak, cucu, cicit, anggota keluarga besar dan handai taulan menghadiri peristiwa langka itu. Banyak hadirin berusia lanjut, di atas 70 tahun.
Pesta itu berlangsung di halaman belakang rumahnya yang berbatasan langsung dengan hutan Babakan Siliwangi. Asri dan indah. Pesta diisi dengan atraksi menyanyi oleh para cucu dan cicit, pembacaan puisi, pidato pesan dan kesan serta doa.
Juga ada tiup lilin dan potong kue. Yang berbeda adalah bentuk liliinnya.Bukan batang lilin berjumlah 99, melainkan dua angka 99. Dibimbing istrinya, Bu Erwina, Pak Soewarma, yang duduk di kursi roda, bangkit untuk meniup lilin dan memotong kue.
MC (pembawa acara) mengumumkan, halaman tempat pesta dan rumah Pak Soewarma, yang berlantai dua di lokasi elit, eksklusif, itu wilayah bebas rokok. Para perokok disilahkan merokok di kolam ikan, di samping rumah. Tidak ada kolam renang. Terkuak sedikit rahasia panjang usia Pak Soewarma, yakni tidak merokok.
Ada pengumuman lagi: pesta milad itu juga dimeriahkan dengan pesta makan “duren” (buah durian) seperti tahun-tahun sebelumnya. Durian adalah makanan berkolesterol tinggi, yang dianggap penyebab penyakit tekanan darah tinggi dan jantung. Apakah Pak Soewarma suka dan masih makan duren?
Saya penasaran untuk mencari ruangan tempat memecah durian. “Apa Pak Soewarma masih makan duren?”. Terdengar jawaban: “ Ya, enggaklah.”
Sebelumnya, seorang hadirin yang disebut MC dengan Pak Sukar, ketika memberikan pesan dan kesan, bertutur, antara lain, sebagai berikut:
“Baron Soewarma adalah pengusaha hebat. Tidak pernah miskin. Makanannya bagus. Diatur oleh isterinya. Dicintai banyak orang. Tidak pernah susah. Selalu bilang: Do not worry. Tomorrow is another day.”
Berdasar info itu, saya membuat analisa sbb: Baron adalah gelar pangeran Eropah. Tapi, tidak disebutkan Soewarma berdarah biru. Pengusaha hebat, betul. Ia adalah pemilik PT Sari Ater, yang bergerak di bidang perhotelan, restoran, spa (pemandaian air panas) dan taman bunga di Ciater. Sebuah website menyebut Soewarma juga sebagai pengusaha yang menyiapkan impor mobil Mercedes Benz dari Jerman untuk kendaraan Asian Games di Jakarta tahun 1962. Ia disebut sebagai pengusaha karoseri.
Berkat sukses dan kekayaannya Pak Soewarma memang pantas digelari Baron. Ia bukan orang miskin, pantas makanannya bagus (enak). Diatur oleh istrinya, Ibu Erwina, yang tampak lebih muda, sekitar 70 tahunan. Ada info, ia adalah istri kedua, setelah istri pertamanya wafat. Ia dulu adalah sekretarisnya. Wajar ia tahu bagaimana mengurus suaminya.
Dicintai banyak orang, sebab ia seorang dermawan. Tidak pernah susah dan khawatir, maklum ia seorang Pandu/Pramuka, yang terkenal dengan tepuk tangan dan lagu: “Di sini senang, di sana senang.”
Kak Soewarma masih aktif di Hipprada (Himpunan Pandu dan Pramuka Wreda). Saya hadir di pesta itu selaku pengurus Hipprada Pusat. Ketika menyalaminya, saya berseru “Salam Pramuka”. Beliau spontan menyahut dengan mengangkat tangan kanan dan menghormat ala Pramuka.




