Soltan Ceritakan Pengalaman Mogok Makan 490 Hari

Mohamed Soltan pictured on a stretcher after months on hunger strike in protest of his detention by Egyptian security forces, photo courtesy of the Soltan family.

LONDON (KBK) – Mohamed Soltan, 27 tahun, pemuda yang memiliki dua kewarganegaraan Amerika Serikat dan Mesir, adalah aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), ditangkap Polisi Mesir pada September 2013 ketika Ia hendak menemui ayahnya di Mesir.

Setelah melakukan mogok makan selama 490 hari untuk memprotes penahanannya yang tidak adil, pada Mei 2015 lalu, dia dibebaskan dan dikirim kembali ke Amerika Serikat.

Kemarin, (14/10/2015), Mohamed Soltan menceritakan kisah penahanannya kepada publik, di Imperial College London.

Soltan, telah merasakan banyak penahanan di Mesir, ia mogok makan karena dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada bulan April. Kelompok hak asasi manusia (HAM) mengecam tuduhan terhadap dia. Kelompok HAM juga mengkritik Pemerintahan Obama, karena gagal membebaskan Soltan dan membiarkan Ia kelaparan dalam penjara.

Ia berhasil dibebaskan dari hukuman itu, karena Soltan melepaskan kewarganegaraan Mesir-nya. Akhirnya yang berlaku baginya adalah hukuman sebagai warga negara asing yang memungkinkan ia dideportasi dari negara itu.

“Setelah upaya yang luas, pemerintah AS telah berhasil mendeportasi Mohamed kembali pulang ke AS,” tulis sebuah pernyataan.

Soltan merupakan orang asing kedua yang dideportasi oleh Pemerintah Mesir, sebelumnya pada bulan Februari 2015, pihak berwenang Mesir mendeportasi Peter Greste, seorang wartawan Australia yang dihukum atas tuduhan dipolitisasi bersama dengan dua rekannya wartawan dari Al Jazeera.

Kedua wartawan Al Jazeera, Mohamed Fahmy, memegang paspor Kanada dan melepaskan kewarganegaraan Mesir-nya, membuat ia memenuhi syarat untuk dideportasi. Tapi malang bagi Baher Mohamed, wartawan Al Jazeera ketiga, tidak memiliki paspor asing, ia harus menghadapi persidangan dan hukum sebagai warga Mesir.

“Soltan sendiri sebenarnya tidak mau melepas kewarganegaraan Mesir, tempat keluarga dan nenek moyangnya berasal. Tapi ia tidak punya pilihan, setelah menerima hukuman seumur hidup,” menurut salah satu pengacaranya, Maha Youssef.

Soltan dibesarkan di Midwest dan lulus dari Ohio State University pada tahun 2012, ditangkap ketika junta Militer Mesir Pimpinan Al Sisi menggulingkan Presiden Mohamed Morsi pada bulan Juli tahun 2013.

Meskipun ayah Soltan, Salah Sultan, teman dekat Mohammad Morsi, yang juga telah menjadi pemimpin senior di Ikhwanul Muslimin, Soltan sendiri bukan anggota kelompok Ikhwanul Muslimin. Tapi ia bergabung dengan demonstran memprotes penggulingan Morsi di sebuah sit-in di Rabaa al-Adawiya persegi yang dibubarkan paksa oleh pasukan keamanan pada 14 Agustus 2013. Ia ditembak di lengan, dan ditangkap di rumahnya 11 hari kemudian. Ayahnya, Salah Sultan, juga ikut ditangkap.

Ditahan selama lebih dari satu tahun tanpa pengadilan, Soltan melanjutkan mogok makan. Kisahnya, ia catat dalam sebuah surat yang kemudian diselundupkan keluar dari penjara dan dipublikasikan oleh keluarganya.

“Saya telah kehilangan rasa lapar, saya sering kehilangan kesadaran, saya bangun untuk memar dan mulut berdarah hampir setiap hari,” tulisnya dalam surat Bulan November 2014 lalu. “Tubuh saya telah menjadi mati rasa karena menggerogoti diri sendiri.” – MEMO/NYTIMES

Advertisement