
SELAIN upaya menargetkan rata-rata sekitar satu juta jiwa per hari demi terciptaya kekebalan komunitas (herd immunity) dengan menyasar 181,5 juta penduduk, program vaksinasi dibayangi pasokan vaksin.
Pemerintah RI sebenarnya cukup sigap, dengan melakukan lobi-lobi untuk mengamankan ketersediaan vaksin dalam kerangka bilateral dengan produsen serta melalui mekanisme multilateral yang dikoordinasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Dari skema bilateral, RI berhasil “mengamankan” pengadaan vaksin melalui kemitraaan dengan Sinovac, China dengan membeli vaksin jadi dan juga produksi bersama dengan PT. Bio Farma, Bandung.
Selain itu, RI juga membuat komitmen dengan Sinopharm (China), Astra-Zeneca-Oxford University (Inggeris), Pfizer-BioNTech (AS dan Jerman), Moderna dan Novavax (AS).
Sedangkan melalui skema multilateral, RI juga mendapatkan jatah gratis vaksin corona (Covax) yang diprakasai WHO dan Aliansi Vaksinasi dan Imunisasi Global (GAVI) melibatkan 182 negara terdiri dari negara maju, negara berkembang dan juga negara miskin.
Dari komitmen bilateral dan multilateral tersebut, RI sudah mengamankan pasokan 426 juta dosis vaksin yakni untuk seluruh program vaksinasi yakni 363 juta dosis (181,5 juta x dua dosis per orang) dan sisanya (63 juta dosis) untuk cadangan.
Namun dalam perkembangannya kemudian, India, salah satu produsen vaksin AstraZeneca (lisensi dari AS) membatalkan komitmen pengiriman vaksin ke Indonesia karena akan digunakan sendiri akibat terjadinya kasus lonjakan baru Covid-19.
Terjadinya lonjakan Covid-19 akibat munculnya varian baru yang terjadi di Inggeris, Jerman dan Perancis dikhawatirkan juga akan membuat mereka mengalihkan komitmen pengiriman vaksin dengan negara lain termasuk RI untuk digunakan sendiri.
Menurut catatan, RI sudah menerima gelombang pertama pengiriman 1,1 juta dosis vaksin Astra-Zeneca pada 8 Maret lalu dan secara bertahap, sampai Mei nanti semula dijadwalkan pengiriman 11 juta dosis lagi.
Akibat penundaan pengiriman vaksin Astra-Zeneca dari India tersebut, menurut Menkes Budi Gunadi Sadikin, ketersediaan vaksin Covid-19 di Indonesia akan sangat menipis pada April 2021.
Penyebabnya, dua gelombang pengiriman vaksin AstraZeneca (2,5 juta dosis yang dijadwalkan pada akhir Maret dan 7,8 juta dosis pada April) ditunda akibat embargo vaksin dari India.
“Akibatnya, persediaan vaksin April nanti sedikit sekali. Kita hanya memiliki 7,6 juta dosis vaksin sinovac,” kata Menkes. Berarti dengan asumsi, setiap hari dilakukan vaksinasi sekitar 500 sampai 600-ribu orang, dalam dua pekan vaksin terpakai habis.
Semula pemerintah menargetkan vaksinasi bagi sekitar 40,4 juta lebih warga yang diprioritaskan sampai April nanti yakni 1,47 juta tenaga kesehatan, 21,5 juta kaum lansia dan 17,2 juta petugas layanan umum.
Walau pun penambahan kasus positif harian Covid-19 cenderung menurun sejak pertengahan Februari, bermunculannya varian baru virus corona cukup mencemaskan, apalagi jika program vaksinasi tidak tercapai sesuai jadwal.




