Strategi Bulog Redam Harga Minyakita: Operasi Pasar Dini dan Tambah Kuota DMO

Saat harga plastik naik, Bulog memilih strategi intervensi dini untuk memastikan minyak goreng Minyakita selalu tersedia di pasar. (Foto: mitra-sembako.id)

JAKARTA, KBKNEws.id – Perum Bulog bergerak cepat melakukan langkah preventif guna membentengi harga minyak goreng rakyat, Minyakita, dari potensi lonjakan di pasar. Di tengah situasi ekonomi yang dibayangi kenaikan biaya produksi kemasan akibat mahalnya harga plastik global, Bulog memilih strategi intervensi dini untuk memastikan kebutuhan pokok masyarakat ini tetap terjangkau.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan pihaknya tidak ingin kecolongan dengan membiarkan harga melambung tinggi terlebih dahulu sebelum bertindak. Seluruh jajaran pimpinan wilayah dan cabang di seantero Indonesia kini dalam posisi siaga satu untuk mengguyur pasar dengan pasokan tambahan.

“Begitu ada indikasi kenaikan harga atau kelangkaan, saya sudah instruksikan seluruh pimpinan wilayah se-Indonesia untuk segera melakukan operasi pasar. Jangan menunggu harga terlanjur tinggi, karena akan lebih sulit menurunkannya nanti. Langkah preventif sedini mungkin adalah kunci,” tegas Rizal saat meninjau ketersediaan pangan di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Selasa (14/4/2026).

Menembus Batas Wilayah 3T

Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah disparitas harga di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), terutama di kawasan Indonesia Timur. Di daerah-daerah ini, harga sering kali merangkak naik melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) akibat beban biaya logistik yang membengkak.

Untuk mengatasi hal ini, Bulog bersinergi dengan pemerintah daerah guna memanfaatkan dukungan anggaran transportasi khusus. Dengan subsidi ongkos angkut ini, diharapkan hambatan distribusi dapat teratasi sehingga masyarakat di pelosok bisa menikmati harga yang sama dengan masyarakat di perkotaan.

Disiplin Harga dan Transaksi Digital

Bulog juga memberikan peringatan keras kepada para pedagang untuk tetap mematuhi aturan HET, yakni Rp15.700 per liter. Rizal menekankan bahwa tidak ada alasan bagi pengecer untuk tidak memberikan uang kembalian secara tepat.

“Kami sudah imbau para pengecer produk Bulog, baik itu Minyakita maupun beras SPHP, untuk selalu menyiapkan uang kembalian receh. Jangan lagi ada praktik mengganti kembalian dengan permen atau barang lain,” ujar Rizal.

Sebagai solusi jangka panjang, Bulog mendorong penggunaan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Langkah ini dinilai lebih transparan, praktis, dan mampu mengeliminasi kerumitan transaksi uang tunai di pasar tradisional.

Usul Lonjakan Kuota Pasokan Nasional

Di balik layar, Bulog juga tengah melakukan lobi strategis kepada Kementerian Perdagangan. Bulog mengusulkan penambahan kuota Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita dari yang saat ini 35% menjadi 65%.

Langkah ini diambil untuk mempertebal stok nasional dan memastikan ketersediaan pasokan di pasar-pasar Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) serta kelancaran program bantuan pangan. Tambahan kuota ini dianggap mendesak untuk menjaga resiliensi pangan nasional di tengah fluktuasi harga bahan baku pendukung, seperti kemasan plastik, yang tengah menghantui industri manufaktur global.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here