Stroke, Pembunuh Kuadrat

Pohon ciplukan yang kini diketahui bisa sembuhkan stroke. Murah, banyak faedah.

BEBERAPA hari lalu beredar isyu bahwa Capres No. 02 terkena stroke ringan, sehingga batal kampanye di Bangka Belitung. Namanya juga isyu, banyak ketidak-benerannya. Faktanya hari berikutnya Prabowo pagi subuh sudah kampanye akbar di GBK, Senayan. Terlepas dari isyu tersebut, selama ini stroke memang menjadi momok masyarakat. Padahal yang namanya stroke, itu penyakit pembunuh kuadrat. Awalnya terbunuh dia punya karier, kemudian benar-benar orangnya selaku sang pengidap.

Orang punya penyakit ludira inggil (darah tinggi), jika malas kontrol dan jorok dalam urusan makanan, punya potensi terkena stroke. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu klepek….., mulut tak lagi sama dan sebangun (baca: merot), tangan sebelah lumpuh seketika. Bila berjalan kaki diseret, liur meleleh tanpa kendali. Kerjanya tiap hari berjemur di halaman, sambil merenungi nasib. Kenapa kok kena penyakit begini, apa nenek moyangnya dulu ada yang sumpah mubahalah?

Bila kondisi sudah begini, alamat tamatlah kariernya. Dia praktis akan menjadi beban keluarga. Bukannya menakut-nakuti, biasanya sekian tahun kemudian tamat pula riwayatnya. Para pemimpin dunia misalnya; Kim Il Sung (pemimpin Korut), Margareth Tatcher (PM Inggris), Ariel Sharon (PM Israel), tamat kariernya gara-gara stroke. Hanya satu dua yang dari stroke bisa pulih kembali. Salah satunya Gus Dur, pasca terkena stroke (ringan) malah jadi presiden.

Darah tinggi merupakan penyakit keturunan, tapi stroke bisa karena pola makan yang main sabet sebagaiman kencing manis (diabetes mellitus). Bukan hanya karena suka daging kambing dan durian, makan uang proyek juga bisa terkena stroke. Maka jangan heran, banyak mantan pejabat yang terkena stroke gara-gara makan barang haram saat berkuasa. Akibatnya akan bak buk (impas) saja, karena uang yang diperoleh secara tidak halal, akan habis untuk berobat.

Tapi ingat, stroke beda dengan struk. Stroke itu penyakit mematikan, sedangkan struk adakah kertas data. Orang belanja di supermarket, diberikan struk berisi perincian macam barang yang dibeli berikut harganya. Transver uang lewat ATM juga dapat struk. Tapi hati-hati, struk juga bisa mengakibatkan orang terkena stroke. Misalnya jaman model judi buntutan dulu. Sudah tembus tiga angka, tahu-tahu struk bukti pembelian nomer hilang. Dia tak bisa klaim dan pastilah klenger karena gagal bawa pulang uang berjut-jut! Untungnya, stroke model beginian gampang disembuhkan, asal mupus (pasrah) bahwa memang belum rejekinya.

Tapi mupus karena terkena stroke, justru mempercepat kebinasaan. Di Youtube ada kawruh sapala (ilmu sederhana) tentang bagaimana menyembuhkan stroke. Bila baru terkena beberapa hari saja, bisa ditolong dengan minum air rebusan daun ciplukan (sunda: cenenet) sampai buah dan akar-akarnya sekaligus. Direbus dengan 4 gelas air sampai tinggal dua gelas, dengan diminum beberapa kali Insya Allah bisa kembali beraktivitas normal, rosa-rosa seperti Mbah Marijan.

Bila uangnya cukup, tak bergantung pada BPJS, bisa juga menghubungi dr. Terawan Agus Putranto, Dirut RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dengan metode “cuci otak” dia telah berhasil menyembuhkan 40.000 pasien stroke. Tapi karena cara pengobatannya berlawanan dengan metode ilmu dokteran, justru dia dipecat dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia).

Sudah banyak orang gedean disembuhkan olehnya, seperti Aburizal Bakrie, Wapres Jusuf Kalla, mantan Wapres Try Sutrisno. Bahkan Capres Prabowo mengaku vertigonya sembuh ditangani dr. Terawan. Berkat penanganannya, kini Prabowo tahan pidato 3-5 jam asal sambil minum kopi. Masalahnya, yang mendengar capek tidak ada orang pidato sampai segitu lamanya? (Cantrik Metaram).

Advertisement