
Jakarta, KBKNews.id – Titik keseimbangan tutupan hijau bumi, yang mencerminkan distribusi vegetasi global, dilaporkan terus bergeser dalam empat dekade terakhir. Perubahan ini tidak terjadi secara acak, melainkan menunjukkan kecenderungan jelas ke arah timur laut.
Para ilmuwan menilai fenomena tersebut berkaitan erat dengan perubahan iklim dan aktivitas manusia. Keduanya memengaruhi pola pertumbuhan vegetasi di berbagai belahan dunia.
Kajian mengenai pergeseran yang disebut sebagai green center ini dilakukan oleh tim peneliti dari Leipzig University, termasuk ilmuwan Miguel Mahecha. Ia mendokumentasikan bagaimana titik keseimbangan vegetasi global perlahan berpindah dalam beberapa dekade terakhir.
Analogi Bola Dunia dan Pusat Massa
Menurut Miguel Mahecha, pusat keseimbangan vegetasi dapat dianalogikan seperti pusat massa sebuah bola dunia.
“Jika Anda meletakkan bola dunia ini ke dalam air yang tenang, pusat massanya akan selalu menunjuk ke bawah,” kata Mahecha, seperti dikutip Earth pada 25 Februari 2026.
Dalam konteks vegetasi global, titik tersebut secara alami bergerak mengikuti siklus musim antara belahan Bumi utara dan selatan. Namun kini, alih-alih hanya bergerak naik-turun mengikuti musim, pusat hijau tersebut menunjukkan kecenderungan permanen bergeser ke utara dan timur.
Emisi Karbon dan Musim Tanam yang Memanjang
Para peneliti menemukan, dorongan ke arah utara sangat dipengaruhi oleh meningkatnya emisi karbon dioksida. Kenaikan konsentrasi CO₂ di atmosfer berkontribusi pada musim tanam yang lebih panjang dan musim dingin yang relatif lebih hangat di wilayah utara.
Pada puncak musim panas, titik keseimbangan ekologis bahkan tercatat bergerak ke utara dengan laju sekitar 1,2 hingga 1,5 mil per tahun.
Perubahan ini tidak sekadar memindahkan “titik imajiner” di peta. Pergeseran tersebut diyakini memengaruhi cara ekosistem menyerap karbon dan melepaskan uap air ke atmosfer.
“Berkurangnya pergerakan antar belahan Bumi dapat mengubah waktu penyerapan karbon dan pelepasan air oleh ekosistem, terutama selama musim panas yang panas dan kering,” demikian bunyi laporan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Faktor Manusia Dorong Pergeseran ke Timur
Selain pengaruh iklim, faktor manusia juga memainkan peran penting dalam pergeseran ke arah timur. Ekspansi pertanian skala besar serta program reboisasi di wilayah Asia disebut sebagai pendorong utama perubahan distribusi vegetasi global tersebut.
Aktivitas ini meningkatkan tutupan hijau di kawasan tertentu, sehingga memengaruhi titik keseimbangan vegetasi dunia secara keseluruhan.
Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa perubahan pola alami ini berpotensi membawa konsekuensi ekologis yang luas.
Ancaman terhadap Ekosistem dan Rantai Makanan
Banyak ahli menduga ketidaksesuaian jadwal alami akibat perubahan ini dapat berdampak pada siklus migrasi, masa berkembang biak, hingga kelangsungan rantai makanan berbagai spesies.
Perubahan waktu penyerapan karbon dan pelepasan air juga dapat memengaruhi keseimbangan iklim regional, terutama di tengah meningkatnya frekuensi musim panas ekstrem dan kekeringan.
Untuk memahami kemungkinan skenario ke depan, para peneliti menjalankan metrik yang sama menggunakan enam model iklim utama. Pendekatan ini bertujuan memproyeksikan bagaimana pusat hijau Bumi akan bergerak dalam beberapa dekade mendatang.
Melalui pemantauan global yang lebih presisi, para ilmuwan berharap upaya konservasi dan kebijakan lingkungan dapat disusun dengan lebih terarah. Pergeseran pusat tutupan hijau ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya soal suhu, tetapi juga tentang bagaimana seluruh sistem kehidupan di planet ini menyesuaikan diri—atau terpaksa berubah.




