
PERANG Suriah berawal dari gelombang protes massa atas rezim Bashar al-Assad, Maret 2011 meluas menjadi perang proksi dan perebutan hegemoni kawasan, belum ada tanda-tanda berakhir walau sudah menewaskan lebih setengah juta korban.
Lembaga Pemantauan HAM Suriah berbasis di London, SOHR menyatakan (12/3), dari data yang dihimpun dari jaringan mereka di Suriah, dari 511.000 korban tewas, 350.000 berhasil diindentifikasi, sekitar 434.350 korban (85 persen) warga sipil, termasuk 19.800 anak-anak dan 12.500 perempuan.
Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef) bahkan menyebutkan, anak-anak semakin rentan akibat serangan udara oleh rezim al-Assad dan Rusia serta akibat kekerasan ektrim tanpa pandang bulu, tercermin dari lonjakan sampai 50 persen korban anak-anak pada 2017 dibandingkan 2016.
Bahkan badan PBB itu memperkirakan, kondisi semakin buruk saat pasukan Suriah dan pesawat-pesawat tempur Rusia menggempur propinsi Goutha timur di pingiran ibukota, Damaskus Februari lalu. Dari sekitar 1.000 korban warga sipil yang tewas, 200 diantaranya atau seperlimanya perempuan dan anak-anak.
Sementara Direktur Regional Unicef Geert Cappelaere menyebutkan, sekitar 3,3 juta anak Suriah terdampak langsung atau tidak dalam konflik berkepanjangan itu. “Kondisi mereka terabaikan sehingga semakin rentan di tengah konflik, “ ujarnya.
Pasca melemahnya kekuatan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang berupaya mendirikan negara khilafah pada 2015 sehingga dilawan bersama-sama, malah terjadi kembali eskalasi konflik antarpihak yang bertikai di Suriah.
Saat ini, satuan-satuan Turki yang tergabung dalam Operasi Ranting Zaitun didukung tank-tank dan pesawat tempur hampir menaklukkan milisi Pasukan Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di wilayah Afrin, Suriah Utara.
Turki melakukan inisiatif penyerangan terhadap YPG untuk mencegah kelompok minoritas yang bermukim di sepanjang wilayah perbatasannya dengan Suriah itu membentuk Negara Kurdi yang bakal mengancam kedaulatannya.
Semula YPG adalah ujung tombak dan mitra utama pasukan AS dalam memerangi NIIS, namun AS, kemungkinan tidak ingin berhadapan langsung dengan Turki yang merupakan sesama anggota NATO, bergeming dan membiarkan YPG dari gempuran pasukan Turki.
YPG di tengah keputusasaan menghadapi gempuran pasukan Turki yang jauh unggul dalam pesenjataan di Afrin,meminta bantuan pasukan al-Assad, namun sejauh ini juga belum ditangapi, kemungkinan karena diancam oleh Turki untuk tidak ikut campur, juga karena hubungan rezim al-Assad dengan YPG sebelumnya juga tidak terlalu dekat.
Di front lainnya, pasukan Suriah, didukung artileri berat dan pesawat-pesawat tempur Rusia, bahkan dilaporkan, Rusia juga menjajal pesawat tempur siluman yang terbaru, Sukhoi SU-57, berupaya mengakhiri perlawanan kelompok oposisi Suriah di Ghouta timur.
Pesawat-pesawat tempur Suriah (12/3) dilaporkan pula mengempur basis kelompok oposisi di kota Busr al-Harir, Hrak, al-Gharaiya, al-Gharbiya an al-Sowara di Provinsi Deraa timur.
Iran yang mendukung rezim al-Assad menempatkan pasukan dan milisi Hesbollah di Suriah, sementara Rusia juga memiliki pangkalan AL dan AU di sana, sebaliknya AS, pendukung kelompok oposisi Suriah, menempatkan pasukannya di wilayah Kurdistan untuk memerangi NIIS.
Dari sisi liputan media, wartawan perang kawakan Inggeris, Robert Fisk mengeluhkan, banyak hal yang mencederai profesi jurnalisme di Suriah, karena sulitnya memverifikasi atau mengonfirmasi suatu peristiwa sehingga reporter hanya bisa bersumber dari satu pihak.
“Wartawan terpaksa menulis bersumberkan orang-orang bersenjata yang menguasai suatu wilayah, ” tuturnya.
Situasi di medan tempur Suriah memang rumit, mitra sewaktu-waktu bisa berubah menjadi lawan, begitu pula sebaliknya.
Entah kapan tragedi kemanusiaan ini akan berujung
(AFP/Reuters/NS)




