Sudah Menempuh Berkilo-Kilo Meter, Dagangannya Tetap Belum Ada yang Membeli

miskin
Foto Dok Suisba Peduli Serang

JAKARTA – Jarum jam menunjukan pukul 7 pagi. Penduduk Kampung Kosambi Dalem, Lebak Wangi, Banten yang sebagian besar buruh serabutan dan tani sudah bersiaga menjemput rezeki. Begitu juga dengan Saripah (80), bakul dan tampah dagangannya yang sudah tersusun rapi dalam waktu sekejab pindah ke pundak ringkihnya.

Kendati pengguna bakul dan tampah semakin sedikit akibat perubahan jaman namun semangat Saripah tak mudah luntur. Seperti dilansir dari akun instagram Suisba Peduli Serang, setidaknya Saripah mesti menempuh jarak hingga berkilo-kilo meter dengan berjalan kaki untuk menjajakan barang dagangannya.

Daerah Pontang yang terkenal panas dan terpaut jarak hingga lebih dari 5 kilometer pun pernah Saripah sambangi. Untuk satu bakul Saripah jual seharga Rp 30 ribu berkapasitas 5 liter sedangkan barang dagangan lainnya dipatok mulai dari Rp 8 – 1 ribu saja.

Yang membuat miris meski harga jual produknya murah dan telah menempuh jarak yang jauh, Saripah jarang kedatangan pembeli. Raut wajahnya yang mengeriput bercampur lelah sangat jelas terlihat.Kondisi tersebut hampir Saripah alami tiap hari.

Kemiskinan yang membelit Saripah membuat dirinya tak banyak memiliki pilihan. Bakul bambu yang dijual Saripah pun bukan buatannya. Saripah ambil dari seorang produsen dengan sistim setoran.

“Jadi untuk sahabat jika bertemu mbah-mbah jualan apapun yang ia tawarkan tolong di beli ya meskipun kita tidak membutuhkannya, dengan membeli berarti kita peduli,” tulis admin Suisba Peduli Serang dalam tautannya.

Advertisement