
PALING tidak dilaporkan 27 orang tewas dan 183 orang mengalami luka-luka akibat bentrokan bersenjata antara pasukan pemerintah Sudan melawan milisi Satuan Reaksi Cepat (Rapid Support Force -RSF) di kawasan ibukota, Khartoum, Sabtu (15/4).
Jubir pasukan loyalis pemerintah mengklaim pihak mereka lah diserang, sebaliknya RFS mengaku, tangsi Tiba dan Soba di kawasan ibukota, Khartoum diserang tentara pemerintah dari darat dan udara.
RFS juga mengklaim, pasukannya berhasil menguasai istana kepresidenan, bandara Khartoum dan sejumlah obyek vital lainnya, sementara AP melaporkan, sampai saat ini pertempuran masih berkecamuk sehingga dikhawatirkan, korban termasuk warga sipil bakal bertambah lagi.
Sudan sendiri saat ini masih di bawah Pemerintah Federal Junta Militer diketuai oleh Abdel Fatah al-Burhan dan wakilnya Mohammed Hamdan Dagalo yang juga panglima RSF.
AB Sudan yang berkekuatan 149.000 personil, sekitar 40.000 diantaranya adalah milisi RSF yang sedang dalam proses integrasi penuh, melebur menjadi pasukan pemerintah, namun terjadi perselisihan mengenai tenggat waktu sehingga berujung bentrokan.
RSF dibentuk pasca konflik Darfur yang terjadi pada 2013, sementara Sudan saat ini sedang dalam era transisi dari pemerintah junta militer ke pemerintahan sipil yang demokratis sejak kudeta yang dilancarkan oleh militer Oktober 2021.
Sudan berpenduduk 47,9 juta yang terletak di timur laut Afrika mayoritas memeluk agama Islam, merdeka atas dukungan Inggeris dan Mesir pada 1956, namun kemudian Sudan Selatan yang mayoritas Kristiani memisahkan diri pada 2011 dengan ibukotanya, Juba.
Dengan semangat Ramadhan, diharapkan pasukan loyalis pemerintah Sudan dan RSF kembali ke meja perundingan sehingga Idul Fitri pekan depan bisa dirayakan dengan damai. (AFP/BBC/ns)




