BANJARAN DURNA (53)

Begawan Durna dapat kiriman parcel Lebaran dari Prabu Duryudana, sekalian undangan Open House.

BERITA kemenangan Harjuna dalam sayembara Mbangun Taman Maerakaca sudah didengar Begawan Durna melalui media online Detikcom. Bahkan dia juga sudah menerima undangan resepsi perkawinan Wara Srikandi – Harjuna yang akan digelar di gedung Graha Saba Buana di Solo habis Lebaran mendatang. Dalam undangan juga dipasang foto pengantin berdua, kelihatan mesra sekali pasangan Wara Srikandi – Harjuna ini.

Yang paling nyakitin, dalam kartu undangan itu juga tertulis, turut mengundang: Bethara Kresna raja Dwarawati. Eneg betul Begawan Durna baca kartu undangan tersebut, masak si pengantin lelaki baik Harjuna maupun Prabu Kresna pernah menjadi rivalitas dalam perburuan jodoh. Bahkan dengan raja Dwarawati ini, dua kali sudah Begawan Durna kalah telak melawan Narayana (Kresna muda). Yakni saat memperebutkan Dewi Setyaboma putri Prabu Setyajid dari Lesanpura serta Dewi Rukmini putra Prabu Bismaka di Kumbina.

“Kalah dua kali bersaing sama Kresna, jadi seperti Prabowo lawan Jokowi di Pilpres, he he he ……” ledek Durmagati kala itu.

“Ndhasmu njeblug! Ada orang susah bukannya ikut prihatin, malah diledek buat mainan.” Sergah Begawan Durna kala itu.

Tetapi Durmagati malah tertawa berguling-guling. Dari dulu Durmagati dan Begawan Durna selalu berseberangan meski dalam satu kubu kuali besar Ngastina-Sokalima. Apapun pendapat dan kebijakan penasihat spiritual Prabu Duryudana ini selalu dioposisi Durmagati. Aneh memang, sama-sama bernama pakai “Dur” tapi keduanya tak pernah kompak, malah saling menjatuhkan.

Bagi Begawan Durna, Harjuna juga satu kwalitas dengan Prabu Kresna, menjadi pengganggu bagi kebahagiaannya. Bagaimana tidak? Sebagai mantan murid mestinya Harjuna selalu hormat dan menghargai dirinya. Yang terjadi justru sebaliknya. Begawan Durna ikut sayembara Taman Maerakaca, dia ikutan pula. Mestinya kan hadiah kemenangan itu lalu dijadikan pisungsun (persembahan) kepada gurunya.

“Kapan rama begawan carikan jodoh buat Aswatama?” kata putra tunggal Begawan Durna membuyarkan lamunan Begawan Durna.

“Kamu ini bisanya ngganggu orangtua saja, bikin bapak jadi gagal fokus. Memangnya cari jodoh itu seperti pesen kue nastar dan biji ketapang sambut Lebaran?” jawab Begawan Durna ketus, dengan muka masam laksana cuci muka pakai cuka.

“Habisnya bapak mikir diri sendiri. Ingat rama, Aswatama sudah berusia 40 tahun belum pernah mbelah duren.” Kata Aswatama lagi merajuk.

“Kamu sendiri juga kurang gaul, gak bisa mendekati cewek. Lagian di cerita wayang ini memang nggak pernah ada lakon “Aswatama krama”, pembuat cerita carangan (di luar pakem) ogah memasukkanmu sebagai tokoh sentral,” jawab Begawan Durna justru mematikan semangat anak semata wayangnya.

Memang tak salah Begawan Durna. Dalang-dalang kondang sebagai pencipta lakon carangan seperti Ki Hadisugito, Ki Manteb Sudharsono dan Ki Seno Nugroho, tak pernah mau bikin lakon  “Aswatama Krama”. Mereka lebih mantep bikin lakon: Petruk mantu, Bagong mbangun desa, atau Semar tundung. Kata para kidalang, Aswatama tak ada nilai jualnya.

Maklumlah, meski putra begawan, Aswatama ini sosok yang mogol (setengah mateng). Ikut parpol, nyalon DPRD dan DPR tak pernah dapat. Ikut pilkada juga malah jadi korban kampanye hitam: Aswatama anak kuda yang bisa terbang, ikut pilkada yang jadi bohir pabrik cat Kuda Terbang! Keruan saja elektabilitasnya muter sekitar 1,4 persen doang.

“Paket! Bapak Begawan Durna ada?” suara seseorang di luar pagar padepokan.

“Ada!” jawab Aswatama dari dalam dan segera menghambur keluar.

Rupanya petugas Gosend, mengantar parcel Lebaran. Dilihat alamat pengirim rupanya Prabu Duryudana, karena ada logo Istana Gajahoya yang bergambar kepala gajah. Ketika dibuka di depan sang ayah Begawan Durna, isinya 1 kaleng biskuit Kong Guan, sakotak kurma mata najwa, 2 botol sirup marjan dan orson, serta sekantong plastik lanting Kebumen. Di sela-sela parcel tersebut juga ditemukan amplop tertutup berlogo Istana. Paling-paling ucapan selamat lebaran.

“Waduh, gigi tinggal satu-dua kok dikirimi lanting. Ngomong-ngomong kok nggak ada berasnya sekalian?” tanya Begawan Durna.

“Apa rama nggak dengar. Kan beras Bansosnya membusuk di gudang sampai 1.000 ton. Lagian, masak parcel Lebaran dicampur sama Bansos….” jawab Aswatama.

Begawan Durna baru sadar, ini parcel Lebaran bukan BLT. Dan ketika amplop yang dikira ucapan selamat Lebaran itu ternyata undangan Open House terbatas sekalian rapat persiapan Perang Baratayuda Jayabinangun. Aneh juga kebijakan Prabu Duryudana ini, habis Lebaran baru saja bermaaf-maafan, kok sudah cari musuh berperang memperebutkan negara. Lagi pula pasukan Ngastina kan masih banyak yang mudik.

                                       (Ki Guna Watoncarita)

 

 

Advertisement