Suhu Udara di Pulau Bintan Capai 33 Derajat Celsius

Ilustrasi/Ist

TANJUNGPINANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa suhu udara di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dalam beberapa hari terakhir telah mencapai 33 derajat Celsius. Hak ini menyebabkan rasa gerah atau panas yang tidak biasa.

Prakirawan BMKG Kota Tanjungpinang, Muhammad Fadris D, mencatat bahwa suhu udara saat ini berada di atas 30 hingga 33 derajat Celsius, sedangkan suhu udara normal pada siang hari biasanya berkisar antara 28 hingga 30 derajat Celsius.

“Kami mencatat suhu udara saat ini berada di atas 30 sampai 33 derajat Celsius,” kata Fadris D, di Tanjungpinang, Rabu (19/9/2023)..

Fadris mengungkapkan bahwa cuaca panas yang sedang melanda Pulau Bintan, termasuk Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2024.

Penyebabnya, sebagian besar adalah fenomena global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole. Selain itu, angin dari arah Australia yang kering juga mengurangi pembentukan awan hujan di banyak wilayah Indonesia.

Meskipun begitu, Pulau Bintan masih memiliki potensi hujan ringan hingga sedang dalam dua hari ke depan.

“Namun khusus di Pulau Bintan, untuk hari ini sampai dua hari ke depan ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang bersifat lokal,” katanya, seperti diberitakan Antara.

Fadris juga menyampaikan bahwa suhu panas saat ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang sudah terdeteksi oleh BMKG, terutama di Kabupaten Bintan.

Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap pemicu karhutla, seperti melarang pembuangan puntung rokok sembarangan dan pembakaran lahan saat cuaca panas.

Fadris juga menekankan pentingnya konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi akibat suhu panas.

“Dari segi kesehatan, perbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi,” ucap Fadris.

Salah seorang warga Tanjungpinang, Erita, mengalami dampak cuaca panas dengan tubuhnya memproduksi lebih banyak keringat dari biasanya dalam dua hari terakhir.

“Panasnya sangat terasa, menyebabkan tubuh memproduksi keringat lebih banyak dari biasanya,” kata Erita.

Advertisement