JAKARTA – Tangannya begitu cekatan memisahkan ban dari velg motor. Meski seorang wanita namun tenaganya cukup kuat Ketika harus mencongkel ban menggunakan kunci.Sekali tarik ban pun terlepas.
Sudah 11 tahun ini Tuginem (47) melakoni hidup sebagai tukang bongkar pasang ban motor yang mengalami bocor. Ia menggeluti pekerjaan yang biasanya dilakoni kaum laki-laki itu setelah suaminya sakit.
Alasannya cuma satu, ia menjadi tukang tambal ban supaya suami dan anaknya bisa ternafkahi.Menurut Tuginem usaha itu cukup mampu membuat dapurnya tetap ngebul.
“Awalnya ya belajar. Lama-lama bisa. Mau enggak mau harus bisa karena suami sakit jantung dan enggak boleh kerja keras sama dokter,” tutur Tuginem seperti dilansir TribunJogja Kamis (23/3).
Sedangkan untuk keperluan sekolah anak Tuginem yang masih duduk di bangku SMP sudah mendapat bantuan dari pemerintah.
“Kalau sekolah anak kan tidak bayar. Kadang sepi kadang ramai, biasa namanya orang usaha,” kata Tuginem di bengkel tambal bannya yang terletak di Jalan Parangtritis KM 3,5 Bantul, DIY.
Tuginem mulai bekerja pukul 06.00 WIB hingga setelah waktu salat Asar. Meskipun suaminya yang berusia 51 tahun selalu menemaninya, tetapi pekerjaan menambal, terutama yang membutuhkan tenaga ekstra dikerjakan olehnya.
Saat ditanya soal suka duka, Tuginem hanya menanggapinya dengan senyum. Ia menjalani pekerjaannya dengan senang hati, sehingga tak menjadi beban ketika ada masalah.
“Dibikin suka saja. Yang penting tenaganya harus kuat biar gampang kalau menambal,” ujarnya.





