Surat untuk Donald Trump dari Palestina

Issa Amro, pejuang Hak Azazi Palestina. Foto: Al Jazeera

Dear Donald Trump,

Nama saya Issa Amro. Saya pembela hak asasi manusia, usia 36 tahun, warga Palestina dari kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki Israel, tempat saya bekerja dengan sebuah organisasi bernama Youth Against Settlements.

Sementara ini kami hidup ribuan kilometer terpisah dan belum pernah bertemu, nasib saya sangat tergantung dengan kebijakan kantor Anda dan keputusan yang dibuat oleh presiden AS baik kebijakan militer Amerika Serikat, dukungan ekonomi dan diplomatik yang memungkinkan Israel untuk melanjutkan pendudukannya di atas tanah Palestina, melanjutkan tindakan rasis mereka dan rezim apartheid.

Saya tidak bisa menghabiskan masa muda saya untuk memikirkan karir saya atau bepergian ke belahan dunia lain, Israel membatasi peluang saya dan masyarakat saya di kedua bidang tersebut.

Sebaliknya, saya telah terlibat dalam konfrontasi hampir setiap hari dengan pemukim Yahudi Israel dan tentara pendudukan, keduanya meinginkan saya, keluarga saya dan teman-teman saya untuk meninggalkan tanah kami dan tidak pernah kembali.

Kami harus berjalan panjang, memutar untuk menuju rumah kami, karena pemukim Israel sering menghalangi jalan kami untuk pulang ke rumah atau ke pasar – bahkan menghalangi anak-anak kami untuk berangkat ke sekolah. Israel sering menyangkal hak untuk bepergian di jalan tertentu di tanah kami, Palestina.

Pemukim juga telah menyerang saya secara lisan saat saya mengunjungi Hebron, melemparkan penghinaan kepada saya, atau lebih buruk mengancam hidup saya. Saya sudah berhenti, digeledah dan dipukuli, kadang-kadang mereka merampas barang-barang pribadi saya.

Akhir tahun ini, saya akan diadili di pengadilan militer karena serangkaian tuduhan palsu, tuduhan itu sebagai serangan yang ditargetkan pada aktivis hak asasi manusia seperti saya. Saya bisa menghabiskan beberapa tahun di penjara jika terbukti bersalah, dan tentu saja, saya takut kehilangan waktu yang berharga.

Saya juga takut, intimidasi yang akan saya hadapi menghalangi pemuda Palestina lainnya memperjuangkan hak asasi manusia dan non-kekerasan padahal itu sangat kita butuhkan.

Saya berharap cerita saya dapat menggugah untuk memberikan beberapa hak kepada rakyat Palestina, setelah hampir 70 tahun, jutaan warga Palestina hidup di bawah kediktatoran militer Israel yang brutal.

Rakyat Palestina bahkan tidak memiliki hak untuk memprotes secara damai, padahal Israel telah mencuri tanah kami untuk pemukiman yang melanggar kebijakan resmi AS, malah memenjarakan kami dalam kantong terisolasi.

Sementara itu, warga Palestina sekitar 20 persen dari populasi Israel, mengalami diskriminasi secara sistematik secara luas, karena mereka bukan orang Yahudi, dan pengungsi Palestina terus diusir oleh Israel, ditolak hak mereka untuk kembali ke tanah air mereka.
Hebron adalah flashpoint dalam konflik Israel-Palestina, dengan sekitar 200.000 warga Palestina dan 1.000 pemukim Israel yang tinggal di kota itu.

Amerika Serikat adalah negara yang indah, pernah dalam kunjungan saya ke Amerika untuk mengetahui sebuah komunitas yang dihuni oleh sangat beragam etnik, banyak di antaranya telah mendedikasikan hidup mereka untuk bekerja sebagai pejuang hak asasi manusia dan kesetaraan.

Namun kebijakan AS terhadap Palestina dan Israel, sungguh tidak adil dan tidak sesuai dengan cita-cita mulia dari kebebasan, hak asasi manusia, dan demokrasi.

Bahkan, ketika membaca karya-karya terkenal seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi dan perintis hak-hak sipil sendiri Martin Luther King Jr, meyakinkan saya untuk menghabiskan hidup saya menggunakan metode tanpa kekerasan untuk perlawanan. Saya berutang banyak dengan ketabahan dan strategi dari Luther King Jr dan ingin jadi pemikir seperti dia.

Namun, AS telah meningkatkan bantuan militer kepada Israel untuk $38bn selama dekade berikutnya. Banyak presiden Amerika telah menyerukan Palestina untuk menolak kekerasan dan mengutamakan protes damai, seperti demo, seni dan kampanye musik di pos pemeriksaan seperti yang saya dan rekan-rekan saya kerjakan.

Namun, ketika Israel menghentikan upaya pembelaan hak asasi manusia tanpa kekerasan Palestina seperti yang saya lakukan, AS diam saja. Kenyataannya adalah bahwa sebagian besar warga Palestina menginginkan hal yang sama dengan orang Amerika dan orang lain. Mereka ingin hidup dalam kebebasan dan martabat; untuk dapat pergi ke sekolah dan bekerja tanpa dicekik oleh pembatasan gerakan kami; untuk dapat membesarkan anak-anak kami dan memberi mereka masa depan yang sejahtera.

Saya beruntung mengatakan bahwa saya bekerja sama dengan banyak orang Amerika yang berharap dan melihat impian Palestina untuk hidup setara. Tapi di luar sana rekan dan sekutu saya, melalui jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan pergeseran yang menjanjikan, dan menunjukkan bahwa semakin banyak orang Amerika ingin pemerintah mereka untuk melaksanaka kebijakan yang memajukan kebebasan Palestina, daripada memungkinkan kelanjutan kerjasama dengan apartheid Israel.

Jika Anda, presiden berikutnya dari Amerika Serikat, ingin membuat kemajuan menuju perdamaian yang adil dan abadi di wilayah tersebut, maka AS harus mulai memperlakukan Palestina sama dengan Israel, dan harus mulai menekan Israel untuk menghormati hak-hak Palestina. Hal ini, sudah sama dengan prinsip berdirinya negara besar yang Anda pimpin: Semua orang diciptakan sama.

Sebagai warga Palestina, kita sedang berjuang untuk hidup dalam masyarakat di mana kesetaraan kami adalah soal fakta, bukan fiksi.

Hormat kami,

Issa Amro

*) Disiarkan Al Jazeera, Selasa (17/1/2017).

Advertisement