Surga Hayati di Tapal Perbatasan

Taman Nasional Betung Kerihun. (Foto: Instagram.com/ibnukf)

JAKARTA – Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah, mulai dari Sabang hingga Merauke. Keanekaragaman ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia.

Keanekaragaman hayati di Indonesia saat  ini lebih mudah dinikmati karena sebagian besar terdapat di dalam taman nasional. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, taman nasional adalah kawasan alam yang dilestarikan dengan memiliki ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, dukungan pertanian, pariwisata, dan rekreasi.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa tujuan pembangunan taman nasional tidak hanya untuk melestarikan keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk penelitian dan rekreasi. Untuk memastikan pengelolaan taman nasional berjalan efektif dan optimal, diterapkan sistem pengelolaan zonasi.

Melansir indonesia.go.id, ada empat zona dalam pengelolaan taman nasional, yaitu zona inti, zona rimba dan zona perlindungan laut untuk wilayah perairan, zona pemanfaatan, dan zona lainnya yang terdiri dari zona tradisional, zona rehabilitasi, zona religi, budaya, sejarah, dan zona khusus. Pertanyaannya kemudian, berapa jumlah taman nasional yang dimiliki Indonesia?

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 56 taman nasional. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya termasuk dalam situs warisan dunia, sembilan taman merupakan bagian dari jaringan cagar biosfer dunia, dan lima taman merupakan lahan basah yang dilindungi oleh Konvensi Ramsar.

Sekarang, mengapa tidak mencoba mengunjungi Taman Nasional Betung Kerihun, yang juga dikenal sebagai ‘surga di perbatasan Malaysia’? Betung Kerihun terletak di perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Secara administratif, Taman Nasional Betung Kerihun terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Batas wilayah taman nasional ini adalah Serawak, Malaysia Timur di sebelah utara, Provinsi Kalimantan Tengah di sebelah selatan, Provinsi Kalimantan Timur di sebelah timur, dan Kabupaten Sintang di sebelah barat.

Sebagai destinasi wisata, taman nasional ini dengan luas 800.000 hektar memiliki daya tarik alam yang eksotis. Selain itu, pengunjung taman nasional ini dapat menikmati berbagai jenis flora dan fauna endemik yang langka.

Di kawasan tersebut juga terdapat berbagai keindahan alam seperti sungai, gunung, dan budaya yang menjadi daya tarik tersendiri. Sebelum membahas keunikan taman nasional tersebut, penting bagi pengunjung untuk mencari informasi mengenai cara menuju ke taman nasional tersebut.

Sebaiknya pengunjung mencari informasi terlebih dahulu, bahkan bisa melakukan registrasi ke Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun yang terletak di Jl Piere Tendean No. 100, Komplek Kodim 1206, Putussibau, Kalimantan Barat. Nomor telepon +6256722282, faksimili +6256721935.

Selanjutnya, persiapan perjalanan menuju lokasi taman nasional Betung Kerihun. Terletak di Kabupaten Putussibau, Kalimantan Barat, untuk mencapai lokasi tersebut, pengunjung perlu pergi terlebih dahulu ke Pontianak.

Dari Pontianak, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan penerbangan menuju kota Putussibau. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu dan menjelajahi Sungai Kapuas, Sungai Sibau, dan Sungai Mendalam selama sekitar lima jam.

Kawasan ini awalnya ditetapkan oleh Menteri Pertanian sebagai area konservasi alam dengan luas 600.000 hektare pada 1982. Sepuluh tahun kemudian, luas kawasan tersebut diperluas menjadi 800.000 hektare pada 1992  dan statusnya berubah menjadi taman nasional.

Sebagai taman nasional yang berbatasan dengan Malaysia, Indonesia dan Malaysia memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kelestarian taman nasional tersebut.

Oleh karena itu, kedua negara sepakat mengajukan permohonan resmi kepada UNESCO pada Februari 2004 dengan tujuan agar lembaga tersebut mengakui kawasan konservasi tersebut sebagai salah satu situs warisan dunia.

Taman nasional ini memiliki iklim tropis dengan suhu udara antara 21°-29° Celcius. Pada musim penghujan, kawasan ini sering mengalami banjir, namun saat musim kemarau aliran air menjadi terhambat. Taman nasional ini juga memiliki banyak aliran air, termasuk ratusan sungai kecil dan besar, terutama sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas.

Terdapat delapan jenis tipe ekosistem di kawasan taman nasional ini, salah satunya adalah ekosistem hutan dipterokarpa dataran rendah atau hutan dipterokarpa dataran rendah.

Selain itu, taman nasional ini juga mencakup ekosistem hutan bukit dipterokarpa, yaitu hutan yang didominasi oleh spesies kayu dipterokarpa yang banyak ditemukan di daerah tropis, serta ekosistem hutan aluvial. Ada juga ekosistem hutan sekunder tua, hutan rawa, hutan gunung, hutan berkapur, dan hutan sub-gunung.

Sebagai kawasan hutan tropis utama, Taman Nasional Betung Kerihun memainkan peran yang sangat penting dalam kelangsungan hidup berbagai jenis fauna. Oleh karena itu, kawasan ini tidak hanya kaya akan keanekaragaman flora, tetapi juga memiliki beragam fauna, termasuk jenis-jenis yang endemik dan langka.

Beberapa spesies tumbuhan endemik di wilayah ini termasuk Amyxa pluricormis, yang merupakan satu-satunya tumbuhan unik di dunia (kerabat pohon gaharu dan memiliki genus sendiri), Castanopsis inermis, Neo uvaria, Shorea peltata, Chisocheton caulifloris, Eugenia spicata, Lithocarpus phillipinensis, Acuminatissima, dan pisang musa.

Selain itu, kawasan ini juga dikenal memiliki 89 spesies anggrek dan 48 spesies mamalia. Beberapa di antaranya adalah sambar (Cervus sp.), kelinci (Tragulus napu), berang-berang (Lutra sumatrana), harimau dahan (Muntiacus muntjak), dan kijang emas (Mutiacus atherodes).

Taman nasional ini juga menjadi rumah bagi lebih dari tujuh spesies primata yang dapat ditemukan, seperti tarsius (Tarsius bancanus), hout (Presbytis frontata), kelempiau (Hylobates muelleri), seaman (Presbytis rubicunda), orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), Macaca fascicularis, dan Macaca nemestrina.

Tentu saja, masih ada banyak keunikan lain yang dimiliki oleh taman nasional ini, termasuk kegiatan wisata alam dan wisata budaya. Dalam wisata budaya, pengunjung dapat menemukan berbagai kebudayaan khas masyarakat Dayak Kayaan.

Dari masyarakat Dayak Kayaan, pengunjung dapat melihat pakaian etnik khas Dayak, menikmati kesenian seperti tarian, musik, dan nyanyian tradisional, serta mencoba makanan dan minuman tradisional. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan pembuatan Mandau (senjata tradisional) dan seni tato yang merupakan bagian dari budaya Dayak.

Advertisement