Suri Tauladan-Timun Suri

Mending berbuka dengan es timun suri, syedap dan segerrr sumyah.

BEBERAPA hari lalu Presiden Jokowi mengingatkan, masyarakat butuh suri tauladan dari pemimpinnya. Tapi dalam bulan Ramadan seperti sekarang, publik berharap lebih dari itu. Selain suri tauladan juga timun suri, karena untuk pelengkap takjil saat berbuka, timun suri sungguh segerrrr sumyah!

Saat menerima pers di Istana Negara beberapa hari lalu Presiden Jokowi mengeluh, kenapa para elit politik selalu menyerang dirinya dengan isyu antek PKI lah, anak Cinalah. Dari logika saja tidak nyambung. Saat peristiwa G.30.S/PKI, Jokowi masih usia 4 tahun. Disebut keturunan Cina, mata tidak sipit dan kulit juga sawo matang. Sebab Jokowi memang bukan keturunan bangsa Mongol, meski suka juga jajanan pasar ongol-ongol.

Awalnya presiden berusaha mendiamkan. Tapi lama-lama disadari, jika dibiarkan saja justru akan menjerumuskan rakyat akibat ulah orang-orang yang tak bertanggungjawab. Karenanya Jokowi menyerukan, marilah kita berpolitik secara beradab. “Karena masyarakat membutuhkan suri tauladan,” kata Presiden.

Suri tauladan dari pemimpin untuk masyarakat? Ah, itu isyu lama yang selalu gagal diimplementasikan. Para pejabat kebanyakan bisanya ngomong doang. Mari menjadi contoh positip bagi rakyatnya. Tapi yang di atas selaku pemegang kekuasaan tetap pamerkan contoh-contoh yang buruk. Akibatnya, jika yang di atas bisa korupsi besar-besaran, pegawai yang di bawah pun ikut korupsi kecil-kecilan. Misalnya korupsi tinta printer, yang jadi sopir pribadi korupsi bensin.

Maka pada bulan puasa ini, silakan saja pejabatnya bicara tentang suri tauladan, tapi rakyat kebanyakan khususnya shoimin dan shoimat, justru lebih butuh timun suri. Ketika adzan magrib terdengar, atau bedug di mesjid dipukul bertalu-talu, minum es campur timun suri, woiiiiii……sungguh seger sumyah. Hilang sejuta dahaga. Saking serunya, kadang sampai lupa membaca doa: Allahuma lakasumtu……

            Kita baru saja mendapat contoh buruk dari Pemprov Jawa Timur. Ketua Komisi B DPRD Tk I, ditangkap KPK karena menerima suap untuk perlancar revisi Perda. Kepala Dinas Pertanian dan Kepala Dinas Peternakan ikut terseret-seret, karena membantu menyogok pada politisi DPRD itu dengan istilah “setoran triwulan”. Ih, pakai istilah triwulan segala, kayak pembagian raport anak sekolah saja.

Pejabat dan politisi model demikian, apakah bisa dijadikan suri tauladan? Jelas tidak. Mana bisa perilaku korup dijadikan suri tauladan? Justru karena korupsi itu para pejabat dan politisi bisa tambah permaisuri. Ini sering terjadi. Bagaimana rakyat tidak marah? Tapi karena ini bulan Ramadan, sebaiknya sabar…..sambil minum es timun suri!

Tapi bagaimana lagi, hati nurani para pejabat itu memang sudah banyak yang mati suri. Mereka sudah kurang mampu membedakan mana harta yang diperoleh secara halal dan mana yang diperoleh secara haram. Mereka sepertinya lupa bahwa hidup di dunia itu hanya sebentar, ibarat kata orang Jawa, mung mampir ngombe.

Maka ketimbang frustrasi melihat kondisi bangsa, mendingan sambil ngabuburit baca saja puisi-puisi sufi Hamzah Alfansuri. Ini cocok untuk mengingatkan para pemangku kekuasaan. Dalam syair “Perahu” misalnya, Hamzah Alfansuri di antaranya bilang: Wahai muda kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu, tiadalah berapa lama hidupmu, ke akhirat jua kekal diammu.

            Di sana, tak ada lagi peluang untuk bertaubat. Saat menjalani hisab nanti, di Padang Mahsyar tak bisa lagi  memohon, “Im suri (sorry) my God.” Di sana hanya ada dua pilihan, masuk surga atau neraka narun khamiah. (Cantrik Metaram)

Advertisement