LONDON (KBK) – Sebuah laporan yang ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB menuduh Suriah menggunakan senjata kimia untuk ketiga kalinya.
Laporan yang bocor itu mengatakan Presiden Bashar al-Assad menjatuhkan bom barel dengan gas klor di Idlib tahun lalu.
Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan, “mengerikan” dan “kebiadaban yang kejam”.
Para pengunjuk rasa di luar Downing St telah meminta pemerintah Inggris untuk berbuat lebih banyak untuk menghentikan pemboman Suriah dan Rusia, mereka mengatakan terlalu banyak anak-anak yang tewas dan menjadi yatim piatu.
Belum ada jeda yang dilakukan Rusian dan Suriah dalam memerangi pasukan anti-Assad yang menolak menyerahkan tanah mereka, di Aleppo Timur.
Sementara beberapa hari ini kekerasan terburuk perang terlihat di permukaan.
Pada Maret tahun lalu sekitar 70 orang dibawa ke rumah sakit setelah serangan klorin beracun yang membuat warga susah untuk bernapas. Gas yang ditembakkan menghanguskan paru-paru siapa saja yang menghirupnya.
Sebuah laporan independen untuk PBB baru-baru ini telah mengkonfirmasi bahwa pasukan pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan itu. Ini adalah ketiga kalinya mereka telah dinyatakan bersalah, meskipun Assad mendaftar ke konvensi yang melarang senjata klorin kimia dan berjanji untuk menghancurkan senjata itu pada tahun 2013.
Senjata kimia dan bom cluster telah menjadi fitur besar perang Suriah. LSM Save the Children menemukan, dalam delapan bulan terakhir jumlah serangan bom cluster telah meningkat delapan kali lipat, dan anak=anak yang membayarnya dengan harga tertinggi, nyawa dan masa depan mereka.
Menurut freesyriamediahub kepada KBK melalui siaran persnya, Selasa (25/10/2016), lebih dari 130 anak telah tercatat tewas di Aleppo selama bulan lalu.





