Syukur Senja

Yudi Latif (Foto: Ist)

Saudaraku, pada suatu senja yang hening, saat layar telah dilipat dan kapal bersandar tenang di dermaga, aku melangkah ke tepian pantai. Angin laut membelai lembut, elang laut melintas anggun di langit, dan suara burung-burung dari kejauhan menyapa lirih seolah ikut bersyukur atas satu hari lagi yang berhasil dilewati.

Mentari perlahan turun di ufuk barat, seperti seorang kekasih yang mengecup langit dengan kasih terakhir sebelum berpisah malam. Cahayanya yang lembut menari di sela awan, memerah lembayung, mewarnai cakrawala dengan syair keheningan. Dalam detik-detik itu, aku merasakan betapa indahnya diberi waktu—betapa agungnya diberi kesempatan untuk menyelesaikan hari.

Hari itu tak selalu cerah. Ombak kadang menggulung tinggi, arah angin tak selalu bersahabat. Namun senja datang seperti maaf yang lembut, seperti pelukan hangat dari alam yang berkata: “Engkau telah bertahan, dan itu sudah cukup.” Dan hatiku penuh oleh syukur yang tak memerlukan kata-kata—hanya diam yang mengendapkan makna.

Senja mengajarkan kita: bahwa keindahan tak selalu datang dari kesempurnaan, melainkan dari keberterimaan. Bahwa luka, lelah, dan peluh yang kita bawa sepanjang hari, bisa juga menjadi persembahan yang layak bagi waktu. Dan malam yang sebentar lagi turun bukanlah ancaman, tapi selimut bagi jiwa-jiwa yang tahu cara berserah.

Seperti perjalanan cahaya matahari yang datang dan pergi, hidup manusia pun mengalir antara terang dan kelam, antara tawa dan air mata. Kita bukan makhluk yang selalu benar, tapi kita bisa belajar bersyukur meski tak selalu menang. Sebab sebaik-baik hidup bukan yang selalu berjaya, melainkan yang tahu caranya mengakhiri hari dengan hati yang lapang—dengan jiwa yang berkata: “Terima kasih, telah sampai sejauh ini.”

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here