
BESUK pagi kita sudah memasuki tahun baru 2021. Di tahun baru ini pula kita menikmati penyakit baru yang namanya Corona, yang diperbarui namanya menjadi Covid-19. Tapi waspadalah……., gara-gara liburan Nataru (Natal & Tahun Baru), Corona jenis baru muncul. Dan ketika diprediksi terjadi ledakan korban Corona gara-gara Nataru yang dipaksakan, dikhawatirkan semakin banyak penduduk negeri lebih cepat masuk “alam baru”. Meskipun, soal kematian itu sudah menjadi takdir Illahi yang tak bisa dihindari.
Sebetulnya sih, Natal dan Tahun Baru akan selalu hadir setiap tahun. Artinya setiap orang punya peluang sama untuk merasakan dan menikmati, kecuali bagi mereka yang sudah ditakdirkan masuk “alam baru”. Karenanya, sangat mengherankan di kala situasinya seperti ini, orang berbondong-bondong pada mudik dan liburan ke luar kota. Apakah tidak takut bahwa ancaman Covid-19 siap menyergap siapa saja, tak peduli bocah, orang dewasa, apa lagi kalangan anggur kolesom (orang tua) alias kakek nenek.
Tapi yang mengherankan, dalam kondisi kritis begini pemerintah tetap memberikan “libur panjang” bagi rakyatnya, baik mereka yang PNS maupun swasta. Jika disesuaikan dengan pandemi, hanya diperpendek atau dikurangi 3 hari yakni: 28, 29, dan 30 (Desember). Jelas ini sama sekali tidak ngefek, karena laju penduduk berlibur tetap saja tinggi. Beda bila ditunda dulu, niscaya yang berlibur akan jauh berkurang.
Gara-gara banyak libur kini banyak orang menggali kubur. Ini sudah diprediksi kalangan pakar epidemiolog. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, maka diprediksi korban terpapar Corona di awal tahun 2021 ini akan meningkat dua kali lipat. Padahal kapasitas Rumah Sakit Darurat Corona semacam Wisma Atlet di Jakarta tinggal 20 persen. Kalau barang masih bisa dipres biar muat, kalau pasien? Kasihan para pasien, kasihan pula para tenaga dokter dan tenaga medisnya.
Kenapa rakyat memaksakan diri memanfaatkan Nataru? Di samping duit di kantong masih penuh, banyak yang meyakini bahwa ancaman Covid-19 tidaklah berbahaya amat. Buktinya, protokol kesehatan di mana-mana sudah mulai mengendor, orang bepergian tanpa masker sudah banyak lagi. Jarang orang cuci tangan setelah bepergian. Yang banyak cuci tangan justru para pejabat yang kuwalahan mengatasi dan menyiasati pandemi di wilayahnya.
Banyak rakyat yang tutup mata atau tak peduli lagi akan protokol kesehatan, karena pemerintah juga pernah mengatakan, virus Corona akan menjadi “teman” kita sehari-hari (new normal) entah sampai kapan. Bahasa populernya, sersan alias serius tapi santai. Karenanya, takut jangan terlalu takut, tapi berani juga jangan terlalu berani. Pinjam bahasanya Presiden SBY dulu, harus terukur!
Jika melihat data-data dari Satgas Corona, memang bikin berdiri bulu roman – yang benar roma, bukan pula Roma Itali maupun Roma biskuit– orang. Bayangkan, pertambahan itu bukan sekedar 100-200 sehari, tapi ribuan. Data Rabu 30 Desember misalnya menyebutkan: terpapar 735.124, meninggal 21.944, sembuh kembali 603.741. Orangpun ngeri mendengarnya, karena takut sekali waktu akan menjadi penyumbang angka yang diumumkan Wiku Adisasmito.
Tapi bagi pelaku bisnis pariwisata, data-data korban Covid-19 itu dianggap biasa saja. Buktinya banyak di antara mereka tetap membuka pintu untuk para pengunjung. Mereka tahu bahwasanya para wisnu (wisatawan nusantara) alias domestik tak peduli akan imbauan polisi untuk di rumah saja di malam tahun baru. Di Jakarta misalnya, malam Tahun Baru nanti malam semua pintu masuk Ibukota disekat, melarang orang daerah masuk Jakarta.
PT Jasamarga memperkirakan, Kamis hari ini sampai malam nanti 842.000 mobil keluar kota untuk berlibur. Jika permobil rata-rata bawa 4 penumpang termasuk sopir, maka 3.368.000 jiwa siap bermain-main dengan ancaman Corona. Semoga saja mereka bahagia di tempat pelesiran. Dikhawatirkan, di antara mereka saat kembali ke Ibukota pelesir pula jiwanya gara-gara terpapar Covid-19. Semoga saja mimpi buruk ini tidak terjadi, dan memasuki tahun baru 2021 tak perlu terlalu cepat masuk alam baru. (Cantrik Mataram).




