Taiwan uji tempur sungguhan

Taiwan menggelar latihan militer sungguhan (25 dan 26 Juli) guna merespons ancaman nyata China daratan yang berkali-kali menyatakan akan merebut pulau yang diklaim miliknya itu.

TAIWAN, negeri pulau yang wilayahnya masih diklaim oleh China daratan (Tiongkok), bakal menggelar latihan militer, 25 – 26 Juli,  kali ini tidak sekedar berupa simulasi perang tetapi dengan skenario menghadapi pertempuran sesungguhnya (real combat).

Seorang pejabat Taiwan yang dirahasiakan namanya menyampaikan pada Kantr Berita Reuters (23/6), manuver perang bersandi Han Kuang digelar selama lima hari sejak 22 Juli bulan depan di sejumlah lokasi termasuk ibukota, Taipei.

Menurut dia, latihan perang digelar untuk menghadapi ancaman nyata China daratan yang semakin intens, namun tidak dirinci  jumlah personil dan alutsista yang dilibatkan.

Menurut catatan, Tentara Rakyat China daratan (PLA) juga baru menggelar latihan gabungan terdiri dari penembakan artileri dan rudal, blokade dan pendaratan ke Tawian denga mengerahkan 27 kapal perang dan 70-an pesawat tempur pada 25 dan 26 Mei lalu.

Seorang pejabat senior pertahanan Taiwan, yang enggan disebutkan namanya mengatakan ada kebutuhan mendesak untuk memikirkan kembali bagaimana latihan tersebut dilakukan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman musuh telah berubah dengan cepat,” kata pejabat itu, dikutip dari Reuters pada Minggu (23/6) sehingga ada kebutuhan mendesak untuk menskenariokan ulang program latihan.

Unsur-unsur yang sebagian besar sebelumnya hanya untuk show of force, menurut pejabat itu, telah dihapus, diganti dengan latihan malam hari dan yang tidak biasa, ibu kota Taipei juga akan disertakan sebagai lokasi latihan.

KemhanTaiwan April lalu menyebutkan pada latihan  tersebut akan diakukan simulasi penghancuran lawan yang masih berada di tengah  laut termasuk untuk mematahkan blokade dan mensimulasikan skenario jika China tiba-tiba mengubah latihan rutinnya di sekitar Taiwan  menjadi serangan sungguhan.

Meski invasi besar-besaran jauh kemungkinannya, para pengamat militer berpendapat, Taipei akan mampu menghalangi kekuatan perang China  jika didukung penuh oleh AS dan aliansinya.

China sendiri menyatakan pihaknya “siap berperang setiap saat” setelah merampungkan latihan perang di perairan sekitar Taiwan sebagai reaksi atas lawatan presiden Taiwan ke AS baru-baru ini.

Selain latihan rutin untuk memblokade Taiwan dari segala penjuru dengan mengerahkan kekuatan militernya termasuk kapal induk, China juga acap kali melakukan simulasi serangan total terhadap Taiwan mulai dari peluncuran rudal, penutupan jalur laut dan udara.

Selain mengasah kesiapan tempurnya, latihan tempur China  juga berfungsi sebagai aksi intimidasi terhadap lawan dan kesempatan bagi pasukan China untuk berlatih mengunci wilayah Taiwan dalam perang sungguhan.

Provokasi militer semakin meningkat sejak China menerbangkan sejumlah besar pesawat militernya ke wilayah identifikasi pertahanan udara Taiwan (Areal Defence Identification Zone – ADIZ) di atas Selat Taiwan.

Pemerintah komunis China mengklaim , Taipei harus disatukan kembali dengan China daratan, jika perlu dengan kekerasan dan menganggap otoritas di pulau tersebut tidak memiliki hak untuk melakukan hubungan luar negeri sendiri.

Perimbangan militer

Tentara Merah China yang saat in menempati ketiga terkuat di dunia setelah AS dan Rusia dengan lebih dua juta personil tetap dan 500.000 personil cadangan, tidak sebanding dengan AB Taiwan yang hanya didukung 169.000 personil plus 1,6 juta sukarelawan sipil.

Mesin perang raksasa Tingkok juga jauh lebih unggul tercermin dari anggaran militernya yang tahun ini sebesar 225 miliar dollar AS (setara Rp3.690 triliun) atau lebih dari APBN Indonesia, dibandingkan Taiwan hanya 19 miliar dollar (sekitar Rp311,6 triliun) atau kurang dari sepersepuluh anggaran militer Tingkok.

AU Tiongkok terbesar di dunia dengan 600-an kapal perag berbagai jenis termasuk tiga kapal induk (Liaoning, Shandong dan Fujian), 59 kapal selam termasuk bertenaga nuklir, sebaliknya, Taiwan hanya megoperasikan 26 kapal perang permukaan dan empat kapal selam konvensional.

Di udara, Tingkok mengoperasikan 2.900-an ragam jenis pesawat termasuk jet tempur siluman generasi ke-5 Chengdu J-20 dan sebagian besar pesawat copy paste warisan Uni Soviet seri MiG, sebaliknya, Taiwan memiliki 744 pesawat militer termasuk F-15 Eagle dan F-16 Viper (eks AS) dan buatan lokal Ching Kuo,

Di darat, dari jumlah tank misalnya, 600-an unit tank tempur utama Taiwan seperti MIA2 Abrams eks AS dan jenis-jenis yang lebih tua seperti M-48 dan M-60 harus berhadapan dengan 4.800 tank Tiongkok, sebagian eks Rusia atau Soviet (T-55, T-62 dan T-72) serta T-99 buatan lokal. Artileri swagerak Tiongkok 9.550 pucuk dibandingkan Taiwan 2.093 pucuk.

Walau jauh lebih kecil, Taiwan tidak bisa dilihat sebealh mata, karena begitu diserang Tiongkok, armada AL AS yang sudah berada di perairan di dekat perairan Taiwan tentu siap beraksi, juga kekuatan NATO lainnya di bawah koordinasi AS.

Ancaman untuk merebut kembali Taiwan sudah dilontarkan berkali-kali oleh pemimpin Tiongkok di berbagai kesempatan, namun tentu risikonya harus dihitung dengan cermat, karena jika itu terjadi, bakal  menyeret banyak pihak menjadi perang global yang  menciptakan malapetaka dan kehancuran global. (Reuters, AP/AFP/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here