JAKARTA, KBKNEWS.id – Wahbah seorang lansia yang tak mampu berjalan terpaksa haru digotong ketika akan mengambil bantuan sembako dari pemerintah karena tidak dapat diwakilkan.
Tak ada pilihan lain bagi nenek Wahbah yang berusia 85 tahun dan beralamat di Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, tersebut.
Warga sekitar menggotong Wahbah menggunakan becak motor menuju lokasi pembagian sembako. Video momen tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik.
Menantu Wahbah, Emmi (65), mengatakan pihak keluarga sebenarnya telah berulang kali mencoba mengambil sembako dengan membawa KTP milik Wahbah. Namun, upaya itu selalu ditolak oleh pihak kelurahan karena bantuan tidak boleh diwakilkan.
“Sudah beberapa kali keluarga dan tetangga datang bawa KTP-nya, tapi ditolak. Alasannya harus yang bersangkutan langsung ambil,” ujar Emmi.
Kondisi tersebut membuat warga akhirnya nekat membawa Wahbah yang lumpuh agar bantuan bisa diterima. Menurut Emmi, keputusan itu diambil karena tidak ada lagi jalan lain.
“Kalau tidak digotong, bantuannya tidak bisa diambil. Padahal beliau sudah tidak bisa berjalan,” katanya.
Setelah video tersebut ramai diperbincangkan, pihak kelurahan disebut baru menyampaikan rencana untuk mengunjungi rumah Wahbah. Namun, keluarga menyayangkan langkah itu baru dilakukan setelah kejadian menjadi viral.
“Pak lurah bilang mau berkunjung. Saya bilang, kenapa baru sekarang, setelah ramai begini,” ujar Emmi.
Menanggapi kasus tersebut, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyatakan permasalahan penyaluran sembako terhadap Wahbah telah ditangani oleh aparat wilayah setempat.
Munafri, yang akrab disapa Appi, mengatakan lurah dan camat telah melaporkan bahwa komunikasi dengan keluarga Wahbah sudah terbangun dan penyaluran bantuan kini berjalan dengan baik.
“Pak lurah dan pak camat tadi pagi sudah melaporkan, permasalahannya sudah tertangani dan alhamdulillah penyalurannya sudah berjalan baik,” kata AppiRabu (17/12/2025), dilansir kompas.com.
Ia juga menegaskan video viral tersebut harus menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Itu harus menjadi jejak digital dan tidak bisa diulang lagi,” tegasnya.





