PILIH mana, tampang miskin atau miskin betulan? Tampang miskin belum tentu si pemilik tampang itu benar-benar miskin. Sebaliknya yang miskin, kadang malah berlagak sok kaya. Dan orang akan tersinggung ketika diejek sebagai “tampang miskin”,. Maka ketika Prabowo terpeleset ngomong “tampang miskin” dengan mengaitkan kota Boyolali, banyak yang tersinggung dan marahnya sampai demo!
Tahun 1950-an, Sadinoe pengusaha sepatu dari Solo, mau beli mobil. Baru masuk showroom sudah diacuhkan oleh pelayan. Ketika dia menunjuk sebuah mobil, penjaga showroom itu bilang, “Memangnya kamu punya uang?” Sadinoe pun segera tunjukkan setumpuk uang dalam tasnya. Pemilik showroom dan pelayannya pun terperangah. Mobil baru itupun dibeli dengan tunai, bukan leasing model sekarang.
Orang kaya memang sering tidak sadar akan kekayaannya, sehingga dia tampil seadanya saja. Begitu kelihatan nyata tampang miskinnya, sehingga banyak yang kasihan kemudian ingin memberi sedekah. Tentu saja ditolaknya. Dan setelah menjelaskan siapa dirinya, orang yang mau memberi sedekah itu jadi malu tersipu-sipu.
Tapi sebaliknya, banyak juga orang yang sesungguhnya miskin, tapi berlagak sok kaya. Dia royal pada teman-teman, tapi sebetulnya dia tak punya uang berlebih. Maka bila ada ungkapan “biar miskin tapi sombong”, itu adalah orang yang jaim alias jaga imej, atau pencitraan istilah sekarang.
Kenapa orang tak mau disebut miskin? Sebab orang miskin sering dihinakan, tak direken dalam pergaulan sesama. Maka wajarlah setiap orang ingin berusaha kaya, dengan berbagai cara. Ada yang ingin model Sangkuriang (dadakan), ada juga yang lewat proses normal, konsisten dengan ajaran orang dulu: hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai.
Menjadi kaya memang hak semua anak bangsa. Tapi tak semuanya bisa mencapai. Bisa karena kurang pendidikan, bisa juga memang dasarnya malas. Banyak pula yang mengaku bosan dengan kemiskinan, tapi dia tak tahu caranya untuk menjadi kaya. Bila sudah berusaha mati-matian untuk kaya tapi selalu gagal, maka itu yang dinamakan “balung kere”.
Paling lucu adalah, orang malas tapi ingin banyak duit. Ini politik pengemis model sekarang. Berlagak seperti orang cacat, padahal itu hanya cacat rekayasa. Di Sidoarjo misalnya, kakek Suaedi pura-pura jadi pengemis cacat, sehari bisa kumpulkan Rp 500.000,- Padahal dia punya istri tujuh dan punya rumah mewah.
Paling celaka adalah, orang yang takut miskin, sehingga dia pelit sama sesama. Untuk mencegah dirinya sampai jatuh miskin, terus kerja kerja kerja….. sampai lupa waktu, dan juga lupa akhirat. Tapi sebaliknya, ada juga yang mungkur kadonyan, sehari-hari ibadah terus sampai meninggalkan urusan dunianya. Padahal mestinya, baik urusan dunia dan akhirat haruslah sama-sama dikejar, itu namanya keseimbangan menuju fidunya wal akhirah.
Bila berkaca dari dunia perwayangan, tokoh satria rata-rata bertampang sederhana, berpakaian biasa saja. Harjuna misalnya, dia hanya pakai perhiasan sederhana, bahkan tanpa baju. Sebaliknya ratu sabrangan, rata-rata berpakaian mewah, pakai gelang, pakai cincin. Para satria sebenarnya juga punya, tapi disimpan saja di rumah, untuk persediaan musim peceklik.
Orang Jawa punya ungkapan sugih tanpa nyimpen, menang tanpa ngasorake. Maknanya adalah, harta sesungguhnya adalah amal kebaikan bagi masyarakat. Dia kaya bukan karena disimpan dalam bentuk deposito, tapi amal perbuatan yang bermanfaat bagi bangsanya. Yang begini ini akan dikenang sepanjang masa. Beda dengan yang kaya karena korupsi, akan dicemooh orang sampai anak keturunannya. (Cantrik Metaram)





