Tamu Presiden Jokowi 7.996

Saat panggih Presiden Jokowi menikahkan putrinya Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution.

UNTUK ukuran Presiden, perhelatan mantu Presiden Jokowi pada 8 Nopember 29017 lalu tergolong sederhana. Berlangsung di rumah dan gedung sendiri tanpa menggunakan Istana meski berhak. Namun demikian ada juga orang-orang yang “lambe nggambleh” (nyinyir), dan ironisnya mereka adalah politisi Senayan yang kawakan dan berpendidikan. Tapi sudahlah, semua telah berlalu. Acara perkawinan yang menjelma jadi pesta rakyat itu ternyata dihadiri 7.996 orang, meleset dari target seharusnya: 8.000 orang tamu.

Jabatan presiden itu adalah jabatan tertinggi di sebuah Negara, sehingga setiap orang bermimpi jadi presiden. Karena jabatannya pula seorang presiden banyak relasi dan banyak bawahan. Apa lagi rakyatnya, sampai ratusan juta. Karenanya bila punya hajatan mantu misalnya, tentu membutuhkan ruangan yang luas untuk menyambut ribuan tamunya.

Oleh karena itu ketika Presiden Soeharto dan SBY mantu, mereka menggunakan Istana Bogor untuk perhelatan itu. Sebagai Kepala Negara keduanya memang diperbolehhkan menggunakan asset Negara tersebut. Kala itu juga tak ada pengamat politik dan LSM yang protes, apalagi nyinyir di koran dan TV, apalagi medsos yang memang belum ada.

Tapi ketika Presiden Jokowi mantu putrinya Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, dua Wakil Ketua DPR kompak menyinyiri presiden kita. Fadli Zon ngetwet dengan kata-kata: baru kali ini Presiden RI selama 3 tahun mantu 2 kali, kerja kerja kerja! Sedangkan Fahri Hamzah menilai, gaya hajatan Jokowi melanggar aturan Menpan/RB bahwa pejabat tinggi Negara yang menggelar hajatan tamunya cukup 400 saja.

Tak jelas, ini yang salah aturan Menpan/RB atau Fahri Hamzah yang “lambe nggambleh” itu tadi. Di era gombalisasi ini, seorang RT saja bisa hajatan dengan mengundang tamu 1.000 orang. Bagaimana jika seorang presiden tamunya hanya 400? Keluarga Istana saja sudah lebih dari itu. Maka bila pinjam istilah Cak Lontong, Fahri Hamzah seharusnya: mikirrrr…….

Fadli Zon sama saja. Kata-kata ngetwitnya yang menyebut “3 tahun 2 kali mantu” ditambah ungkapan “kerja kerja kerja” terkesan sinis sekali. Apa hubungannya jabatan presiden dengan mantu? Mau mantu 4-5 kali pun, memangnya masalah buat elo? Sebagai orang Islam, tentunya Fadlizon mengetahui bahwa mengawinkan putra-putrinya itu adalah sebuah kewajiban bagi orangtua. Jika anak sudah ketemu jodohnya, wajib dinikahkan.

Jika mengikuti petunjuk Bapak Fadli Zon, berarti mantunya satu saja dulu, yang lain tunggu setelah tidak jadi presiden. Bagaimana jika nantinya terpilih lagi? Anehnya, meski bersuara miring, kedua Wakil Ketua DPR ini juga kirim karangan bunga, sehingga terkesan kiriman bunga yang setengah hati.

Para tamu yang hadir, terutama para pejabat tinggi menilai, gaya mantu presiden Jokowi cukup sederhana. Dia tak mau menggunakan Istana Negara, acara siraman di rumah sendiri, dan resepsinya cukup di Gedung Graha Saba Buana juga milik sendiri. Karena gedung hanya mampu tamu 2.000 orang, sehingga tamu digilir ada yang untuk sesi akad nikah, ada pula yang untuk saat panggih.

Presiden Jokowi sendiri dalam sambutannya mengatakan, minta maaf jika kursi yang disediakan tidak mencukupi. Katanya tamu 2.000 ternyata nambah jadi 3.000. Katanya 3.000 nambah lagi jadi 4.000. Akhirnya diperkirakan tamu Presiden Jokowi justru lebih dari 8.000. Karena banyak  tamu yang tidak diundang, meski bukan relawan, ikut hadir juga dengan ongkos sendiri. Maka banyak yang menyebut ini pesta rakyat terbesar sepanjang sejarah.

Tapi menurut catatan resmi yang ada di buku tamu, dari 8.000 undangan tersebut, yang hadir ternyata “hanya” 7.996 orang. Adapun 4 orang yang tidak hadir dengan segala alasan masing-masing adalah: Prabowo, Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Amien Rais. (Cantrik Metaram)

Advertisement