SIAPA yang belum pernah minum teh? Baik itu teh tubruk, teh celup maupun teh kotak. Rasanya setiap orang Indoesia pernah meminumnya, bahkan (ketagihan) sebagaimana lazimnya kakek nenek dengan tekonya. Tapi kalau menikmati Teh Ninih, satu-satunya hanyalah ustadz Aa Gym dari Bandung, atau Teh Desy Ratnasari oleh Sammy Hamzah, dan juga Teh Diah Pitaloka oleh Donny Gahral Adian. Maaf, menikmati di sini bermakna pernah menikah.
Bagi orang Indonesia teh sudah menjadi minuman tradisional. Rasanya pahit-pahit sedep. Tambah nikmat lagi bila diberi gula. Mungkin orang Indonesia ketularan tradisi bangsa Inggris yang menjadikan minum teh sebagai tradisi bangsawan sejak tahun 1850 (Afternon Tea). Karena murah dan barangnya gampang didapat, banyak orang menirunya. Coba Vodka atau Champagne, hanya orang kaya yang mampu menirunya, karena sebotol saja berharga miliaran untuk sekarang ini.
Di Inggris tradisi minum teh digunakan juga untuk menghormati tamunya. “Aku senang sekali ketemu Anda, silakan mampir ke rumah sekedar minum-minum teh.” Kata mereka, padahal aslinya nanti, hidangan yang tersedia tidak hanya melulu teh. Orang Indonesia khususnya Jawa, juga punya tradisi demikian. Kepada sahabat atau saudara yang lama tak ketemu diundang ke rumah –bahasanya: ngampirke– Di situlah kemudian terjadi obrolan menyenangkan.
Orang Jawa juga punya tradisi, setiap mau ketemu orang yang dituakan, selalu membawa gula-teh sebagai oleh-oleh. Pantang sowan sesebuh hawa awak abang (tangan kosong). Harga minuman itu tak seberapa, tapi bagi yang diberi oleh-oleh itu adalah sebagai kehormatan. Sampai sampai Presiden Jokowi pernah bercanda, “Mau menang Pemilu, silakan ke rumah sambil bawa gula-teh.” Maklum, Jokowi memang orang Solo.
Nah, sekarang ini minuman teh manis –lengkapnya es teh manis Solo– baru naik daun karena menjadi viral di jagad maya. Kini di wilayah Jabotabek di mana-mana orang menjajakan minuman es teh manis Solo, baik secara pribadi maupun sebagai hasil kerjasama (franchise). Yang sudah punya lapak cukup Rp 6,8 juta dan yang pakai gerobak Rp 7,3 juta. Ternyata yang beli berebut, apa lagi ada promosi: beli satu dapat dua!
Kenapa es teh manis Solo banyak penggemarnya, konon katanya ada 5-6 merek dipaksa berkoalisi yang setara. Katanya pula, rasanya jadi nikmat sekali. Di Solo sendiri ada istilah bagi penikmatnya: teh ginasthel (legi panas kenthel) atau nasgithel (panas legi kenthel). Koalisi utamanya memang dengan gula pasir. Jangan coba-coba teh dipaksa berkoalisi dengan gula Jawa, jadi tidak enak sebagaimana koalisi PDIP dengan PKS.
Gula Jawa memang hanya cocok untuk berkoalisi dengan kopi, termasuk juga white koffie, apa lagi merk kopi ini sudah berkoalisi dengan musang atau luwak pemangsa ayam. Yang unik adalah, di Arab Saudi musim haji rasanya koalisi susu dengan teh itu juga nikmat sekali. Tapi giliran dicoba di dalam negeri, menjadi tak seenak di Mekah-Madinah sana. Mungkin juga karena udara dingin yang mempengaruhinya.
Dalam Bahasa Jawa ada istilah medang, itu artinya juga minum teh ginasthel sebagaimana di Solo. Tapi ngomong-omong soal medang, jadi inget pengalaman masa kecil di kampung. Mbah Amat Sadali kiai kampung, setiap hari tak pernah lepas minum teh kenthel tanpa gula. Tempatnya pun pada teko yang dasarnya sudah ngethel dengan karang teh dari waktu ke waktu. Sedangkan cangkirnya bukan yang berukuran standar, melainkan cangkir mini yang sekali teguk langsung habis.
Beda lagi dengan istilah medang medong, adalah gaya jalan yang tidak enak karena pengaruh ketuaannya. Ini bisa terjadi karena telah terjadi pengeroposan tulang pada sendi-sendi pinggul. Ini tak ubahnya dengan roda yang jalannya ngobeng karena lakher atau gotrinya banyak yang pecah. Karenanya bagi mereka yang jalannya sudah repot sedemikian, lebih baik istirahat, nyadar akan ketuaaannya, jangan merasa masih rosa-rosa macam Mbah Maridjan dari Gunung Merapi. Biarlah urusan bangsa dan negara ditangani oleh mereka yang masih muda-muda dan enerjik.
Tapi memang banyak juga sih kakek-kakek yang mendadak merasa muda ketika berhubungan dengan Teh Ninih dan Teh Diah Pitaloka sebagaimana telah disinggung di awal tulisan. Maklum, teh dalam bahasa Sunda adalah kepanjangan dari kata teteh yang artinya kakak perempuan. Dalam dunia perwayangan salah satunya Begawan Wisrawa dari Ngalengka, meski sudah jompo dan aktif di Posyandu Lansia, eh…..masih juga mengawini Dewi Sukesi putri Begawan Sumali, gara-gara sukses menafsirkan Sastra Jendra Hayuningrat. (Cantrik Metaram)





