Tenda Sakinah di Cianjur

Tenda Sakinah di Cianjur yang sempat viral, ternyata dapur umum yang juga jadi tempat ibu menyusui.

BEBERAPA hari lalu viral di medsos, konon ada “tenda sakinah” di tempat penampungan korban gempa Cianjur. Yang bener? Masak dalam kondisi berduka masih sempat memikirkan syahwat segala. Meski hal itu merupakan kebutuhan pokok di atas sembako, toh tak menjalankan aktivitas semacam itu sampai berbulan-bulan bahkan tahun, juga takkan mati. Cuma puyeng saja, macam pecandu rokok seharian tak mengisap tembakau dalam kemasan.

Dalam Qur’an surar Albakarah ayat 223 Allas Swt berfirman, “Istri-istrimu adalah ladangmu, maka datangilah mereka kapan saja dengan cara yang kamu sukai.” Itu bisa dimaknai bahwa seks  itu sebuah kenikmatan sekaligus keindahan yang halalan tayiban wa asyikan. Kenapa Allah memberikan kenikmatan tiada tara dalam seks, maksudnya tak lain agar manusia bisa berkembang biak bertebaran di muka bumi. Dalam surat Ar Rum ayat 17 juga disebutkan, “Kami jadikan kamu berpasang-pasangan  agar hidup tenteram.”

Bayangkan jika seks itu menyakitkan, pasti orang jadi ogah menikah. Tapi  karena di situ ada kenikmatan dan keindahan, umat manusia semua menyukai, bahkan doyan! Faktanya, banyak orang poligami dengan tujuan utama untuk melampiaskan syahwat. Surat Anisa ayat 3 diartikan secara telanjang saja. Padahal narasi “jika mampu” itu maknanya luas sekali.

Semua umat  manusia menyukai seks, kecuali orang-orang yang sengaja meninggalkannya karena keyakinan agamanya. Dalam dunia perwayangan ada tokoh bernama Raden Lesmana dari Ayodya dan Resi Bisma dari Talkanda, juga tak menikah alias brahma carin karena menghindari seks. Walhasil “hardware” kedua wayang itu seumur-umur hanya untuk kencing doang.

Mereka memang punya alasan politik untuk itu. Raden Lesmana sumpah takkan menikah, karena dicurigai naksir kakak ipar sendiri, Dewi Sinta. Sedangkan Resi Bisma yang waktu muda bernama Dewabrata, bersumpah takkan menikah karena dicurigai anak keturunannya akan merebut tahta di negeri Ngastina.

Bayangkan seumur hidup kok tak pernah “mbelah duren”. Padahal yang kadung doyan, ditempuh berbagai cara agar bisa memuaskan syahwatnya. Yang mengambil cara poligami bagi yang pemberani dan kawin siri bagi yang penakut; masih dijamin syariat agama. Tapi yang ngeteng di luar sampai mengganggu bini orang, itu yang dilarang agama karena termasuk kategori zina.

Sekelompok warga korban gempa Cianjur, tepatnya di Pasir Goong Kecamatan Cilaku, dengan dimotori Fery Firdous mencoba membangun tenda darurat syahwat dengan diberi nama Tenda Sakinah. Suami dengan pasangan masing-masing diberi kesempatan menggunakan itu untuk melampiaskan syahwatnya, karena itu merupakan kebutuhan pokok manusia selain sembako.

Ide Firdous muncul ketika mendapati seorang warga yang 2 bulan tugas keluar kota, begitu pulang mendapati rumahanya sudah hancur berantakan ditelan gempa. Padahal dua bulan tak ketemu istri merasa puyeng juga. Tapi bagaimana mau “ngetap olie” jika ruangan tak mengizinkan. Nah, inilah solusi yang diberikan Fery Firdous: Tenda Sakinah!

Banyak juga warga yang merasa jengah dengan gagasan Fery Firdous itu. Masak urusan begituan harus diumumkan nama-nama pasangan suami istri yang hendak menggunakan, kan malu. Coba jika ada yang meledek, “Mau menjalankan “sunah rosul” Mang? Apa malah nggak mengkeret itu syahwat.

Lagi pula, mengapa tenda itu dibuat untuk banyak ranjang. Jadi para pengungsi dipersilakan ngeseks bersama alias masal gitu? Mana bisa aktivitas yang sangat privat ditonton pihak lain. Kucing saja tak mau gandik jika dilihat orang, apa lagi manusia yang berbudaya dan beradab. Malah bisa mogok di tengah jalan.

Sebetulnya dalam kondisi darurat karena musibah gempa, bagi setiap keluarga seks menjadi kebutuhan urutan ke sekian. Apa lagi buat kakek nenek, sudah lama melupakannya. Lagi pula jika menunda barang 2-3 bulan setelah kondisi normal oragng juga takkan mati karena non aktif urusan seks. Tak ada duda mati lantaran tidak ngeseks, yang banyak duda tewas di kompleks WTS seks karena melepas syahwat bukan pada tempatnya.

Untung saja Tenda Sakinah yang firal itu dibantah oleh pihak kelurahan Pasir Goong. Tenda tersebut sebetulnya bagian dari dapur umum, di mana di dalamnya ada juga ruang untuk menyusui bagi ibu-ibu yang punya anak. Sekali lagi ditegaskan, ruang menyusui untuk anak bukan menyusui bapak, lho ya! (Cantrik Metaram)