
AKSI tawuran antarpelajar tanpa sebab yang jelas acapkali terjadi di kota-kota besar di Indonesia, namun sulit dibayangkan jika hal itu dilakukan oleh tentara dengan kekuatan nuklir, China dan India.
Bersenjatakan batu, ketapel dan tongkat besi kesatuan kedua negara yang bersteru di garis pengawasan aktual (LAC) di di Lembah Galwan, Ladakh tawuran (4/6) sehingga menewaskan 20 tentara India termasuk seorang perwira AD berpangkat kolonel.
Tidak diketahui jumlah korban di pihak China dalam insiden brutal tersebut, namun sejumlah saksi mata menyebutkan paling tidak 40-an anggota satuan pengawal perbatasannya tewas.
Bagaikan aksi “lempar batu sembunyi tangan”, kedua belah pihak pun saling tuding dan mengklaim, lawannya lah yang memicu tawuran maut tersebut.
PM India Narendra Mohdi mengatakan, pihaknya tidak pernah memprovokasi siapa pun dan menginginkan perdamaian, namun jika dipojokkan, tentu akan melancarkan balasan setimpal.
Sebaliknya, Jubir Kemlu China Zhao Lijian menyebutkan, pertikaian terjadi setelah pasukan India menerobos perbatasan, melakukan provokasi dan meyerang pasukannya sehingga terjadi bentrokan fisik berujung korban jiwa.
China dan India sudah menggelar kekuatan militer berupa artileri-artileri berat, roket dan rudal serta tank-tank di kedua sisi LAC di sekitar dataran tinggi yang mengitari Lembah Galwan.
Satuan patroli kedua belah pihak dilarang membawa senjata berdasarkan perjanjian militer di perbatasan yang disepakati pada 2013.
Sebelumnya keduanya pernah terlibat insiden perbatasan di kawasan Danau Pakpong, 5 Mei dan aksi lempar batu antarpenjaga perbatasan yang saling berhadapan di LAC pada ketinggian 15.000 kaki di dekat perbatasan Tebet, 9 Mei lalu.
Eskalasi ketegangan terjadi di wilayah itu dengan peningkatan jumlah tentara dan persenjataan pasca pembangunan akses jalan raya oleh India dari Lembah Galwan menuju pangkalan udaranya di Daulat Beg Oldi.
China merasa terancam atas pembangunan jalan berdekatan dengan wilayah di sekitar LAC yang dikuasainya di Aksai Chin, provinsi Xinjiang dan Tibet.
Bagi China, akses jalan raya tersebut dicemaskan akan meningkatkan kemampuan ofensif pasukan India jika pecah perang, karena selama ini negara seterunya itu hanya mengandalkan pasokan logistik dari udara.
Bisa dibayangkan kerusakan yang terjadi jika konflik perbatasan kali ini bereskalasi menjadi perang terbuka, mengingat kekuatan militer yang mereka miliki termasuk senjata nuklir.
Peringkat Militer
Institut Perdamaian dan Riset Internasional Stockholm (SIPRI) mencatat, China pada 2019 menganggarkan 261 milyar dollar AS (sekitar Rp3.915 triliun) atau ke-2 terbesar setelah AS (732 milyar dollar atau Rp10.980 triliun) dan India di peringkat ke-3 dengan 71 milyar dollar (Rp1.065 triliun).
Arsenal nuklir China paling tidak memiliki 50-an rudal balistik antarbenua (ICBM) Dong-Feng (a.l. DF-5 dan DF-41) berjangkauan 15.000 Km dan kecepatan max. sampai 22 Mach (26.950 Km/jam) dan sekitar 1.200 rudal jarak menengah.
India dilaporkan memiliki 130 sampai 140 rudal nuklir, a.l. rudal balistik antarbenua (ICBM) Agni-VI yang masing-masing memiliki 10 hulu ledak berjangkauan 12.000 Km dan sedang mengembangkan ICBM Surya dengan jangkauan 35.526 Km lebih.
AU China mengoperasikan sekitar 4.200 pesawat, sebagian copypaste MiG-21,MiG29, Sukhoi SU-27 dan SU-30 serta membuat sendiri pesawat tempur seperti siluman J-21 Chengdu dan 1.170 helikopter.
Sedangkan AU India memiliki sekitar 2.200 pesawat, sebagian eks-Rusia dan Uni Soviet (MiG-21, MiG-29, SU-30) dan Mirage-2000 eks-Perancis serta berbagai pesawat pendukung lainnya termasuk buatan dalam negeri, Tejas ditambah 725 helikopter termasuk heli serang AH-64 Apache dan heli angkut berat CH-47 Chinook buatan AS.
AD China a.l. mengoperasikan 7.600 tank dan 6.000-an panser, 2.650 kendaraan peluncur roket, 10.000 pucuk artileri, sementara India 3.500 tank twrmasuk buatannya, tank Arjun, 5.600 panser dan 266 peluncur roket.
Di Laut, China lebih unggul dengan sekitar 770 kapal berbagai jenis seperti dua kapal induk, 36 destroyer, 52 fregat, 50 korvet, 76 kapal selam dan 285 aneka jenis kapal pendukung, sebaliknya India memiliki satu kapal induk, 14 destroyer, 13 fregat dan 19 korvet, 16 kapal selam dan 106 kapal patroli pantai.
AB China didukung 2,3 juta personil plus jutaan pasukan cadangan, sementara India 2,1 juta personil dan ditambah cadangan.
Semoga kedua belah pihak dapat menahan diri, dan tawuran yang terjadi tidak bereskalasi menjadi perang terbuka, apalagi dengan mengerahkan senjata pemusnah massal. (AP/AFP/Reuters/NS)




