
PURWOKERTO – Selama 6 bulan Duloh Apria, 15 tahun, menjadi penghuni Shelter Layanan Kesehatan Cuma-cuma, Purwokerto, Jawa Tengah. Warga Bandingan, Karang Jambu, Kec. Karang Jambu, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini harus kontrol setiap minggu ke RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, Purwokerto.
Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu, Duloh bermain ke sawah orang tuanya yang baru panen padi dan bersiap untuk mengolah sawah untuk ditanami kembali. Tanpa sengaja salah satu sendalnya terlempar ke tumpukan abu sekam dan jerami bekas pembakaran. Ia berpikir apinya sudah padam, ternyata ketika ia mengambil sendalnya itu ia terperosok ke dalam tumpukan abu, ternyata di bawah tumpukan itu si-api masih membara.
Duloh yang masih duduk di kelas 5 SD ini kaget dan kesakitan serta kepanasan. Ia berlari secepatnya dan terus berlari menuju rumahnya yang berjarak 200 meter dari tempat kejadian. Sesampai ia di rumah, dia langsung masuk kamar mandi dan merendam bekas terbakar dengan air, selama satu jam ia mendinginkan badannya dalam bak di kamar mandi.
Ternyata, didinginkan pakai air bukannya lebih baik, kondisi kaki dan tubuhnya. Daging menggelotok sampai 75 persen. Di rumah ia sendiri, bapak dan ibunya lagi di sawah. Satu jam kemudian baru bapak dan ibunya pulang untuk makan siang. Dan mereka mendengar rintihan Duloh di kamar mandi, ketika dilihat kondisi Duloh sudah sangat memprihatinkan. Bapaknya segera mengangkat Duloh dan melarikan ke Puskesmas Karang Jambu. Pihak Puskesmas mengambil tindakan untuk merujuk Duloh ke IGD RS Siaga Medika, Purbalingga untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Di rumah sakit ini, 5 bulan Duloh dirawat untuk memulihkan luka bakarnya. Selanjutnya pihak rumah sakit merujuk Duloh untuk merecoveri luka bakarnya ke Poli Bedah RS
RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, Purwokerto.
“Dari Bandingan, Karang Jambu, Purbalingga ke Purwokerto, kami harus sewa mobil Rp600 ribu untuk sekali rawat jalan PP, meski pakai BPJS kami tetap tidak kuat membayarnya, bahkan dokter sudah membayangkan kontrol akan direncanakan sampai 5 bulan dan tidak boleh berhenti agar luka bakar dapat disembuhkan sempurna,” ujar Darso, 40 tahun, Ayah Duloh.
Darso dan isterinya Kusriah, mengaku tidak mampu untuk membiayai pengobatan anaknyanya keduanya itu. Sejauh ini ia sudah hutang ke tetangga Rp10 juta untuk membiayai transportasi dan kebutuhan lain selama Duloh di rawat.
“Untung ada orang memberi tahu tentang keberadaan LKC Dompet Dhuafa Purwokerto. Ia pun menjabangi kantor LKC Purwokerto ini.
Ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam tiba. Setelah mendapat penjelasan dari Titi Ngudiati, Pimpinan LKC Purwokerto. Ia sujud syukur karena dibolehkan tinggal di kantor LKC Purwokerto, yang tersedia beberapa kamar untuk dijadikan sebagai shelter, atau rumah singgah bagi pasien dhuafa yang berobat jalan dari daerah ke Kota Purwokerto.
“Bahkan kami di sini bukan saja gratis nginap, tapi juga diberi makan 3 kali sehari dan diantar-jemput pakai ambulan LKC ke rumah sakit untuk kontrol,” jelas Darso.
Selain itu, selama menginap di LKC, untuk perawatan luka bakar Duloh, Perawat dan dokter LKC Dompet Dhuafa Purwokerto juga turut membantu perawatannya.
Kini dokter RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo, Purwokerto, sudah menyatakan luka bakar Duloh hampir sembuh total, jadi tidak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit. Cukup mengolesi obat luar di rumah.
Duloh dan keluarga pun berterimakasih kepada LKC Dompet Dhuafa, Purwokerto atas segala bantuannya.
“Kami tidak bisa membalas apa-apa, semoga donatur Dompet Dhuafa diberkahi Allah SWT yang telah membantu kelancaran pengobatan anak saya,” kata Darso, seperti ditirukan Asrowi Harostowibowo, Driver Ambulans LKC Purwokerto, yang mengantar keluarga ini ke kampung halamannya. –




