Terhimpit Ekonomi, Penjahat Semakin Beringas

Pelaku kejahatan semakin beringas dan nekat dipicu oleh himpitan kesulitan ekonomi (mahmudfauzi.com)

SEBAGIAN besar (66,7 persen) warga DKI Jakarta menilai, himpitan persoalan  ekonomi menjadi penyebab utama semakin nekat dan beringasnya para pelaku kejahatan akhir-akhir ini.

Hal itu tercermin dari jajak pendapat yang dilakukan Litbang Harian Kompas pada 18 dan 19 Juni lalu yang diikuti 459 responden yang berdomisili di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Aksi perampokan di SPBU Jalan Daan Mogot, Tangerang (9/6) merenggut nyawa korban Davidson Tantono (33) yang ditembak dengan pistol rakitan saat berusaha mempertahankan tas berisi uang yang baru diambilnya dari sebuah bank.

Kasus lainnya yang menonjol terjadi tiga hari kemudian terhadap Italia Kirana Puteri yang juga ditembak dari jarak dekat saat berusaha menghalau dua orang yang hendak mencuri sepeda motor yang diparkir di halaman rumahnya di bilangan Karawaci, Tangerang.

Rendahnya kepedulian warga terhadap lingkungan sekitar, menurut 11,1 persen responden, ikut memicu aksi-aksi perampokan, selain minimnya jumlah aparat polisi atau petugas keamanan (10,7 persen) dan begitu mudahnya mendapatkan senjata api ilegal (7,2 persen).

Kepedulian warga terhadap lingkungannya terutama di kawasan permukiman baru sangat rendah, selain karena kesibukan masing-masing, sekat-sekat primordial dan kesenjangan kelas ekonomi agaknya juga berperan membuat orang bersikap individual.

Lebih separuh responden (51,2 persen) berpendapat, upaya pribadi seperti melengkapi kendaraan bermotor dengan kunci ganda atau memasang CCTV di lingkungan perumahan adalah cara terbaik menghindari ancaman aksi  kriminalitas selain meningkatkan kerjasama dengan tetangga (11,3 persen) dan menghubungi petugas keamanan (11,3 persen).

Responden (34,4 persen) berharap agar aparat keamanan meningkatkan kegiatan patroli, menindak tegas dan jika perlu menembak pelaku di tempat (30,5 persen) dan mengenakan sanksi hukuman lebih berat (24,2 persen) serta memberantas peredaran senjata ilegal  (8,1 persen).

Hampir seluruh responden (93,5 persen) setuju atas kehadiran tim-tim khusus seperti Tim Jaguar, Tim Kobra dan Tim Elang yang dibentuk kepolisian di wilayah Jabotabek guna memberantas aksi-aksi kriminalitas.

Berdasarkan data 2015, DKI Jakarta menempati provinsi dengan angka kriminalitas tertinggi (44.400 kasus), disusul Jawa Timur (35.400 kasus), Sumatera Utara (35.200 kasus), Jawa Barat (27.800 kasus), Sumatera Selatan (20.500) dan Sulawesi Selatan (16.000 kasus).

Selain mencari solusi dari akar persoalan yakni mengupayakan lapangan kerjaan dan menekan kesenjangan ekonomi, pengenaan sanksi hukum yang lebih berat, meningkatkan patroli oleh aparat keamanan dan juga kepedulian masyarakat.

Ingat, kejahatan tercipta jika ada peluang!

 

 

 

 

 

Advertisement