PONOROGO – Satu setengah tahun berlalu pasca kejadian longsor diĀ Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, namun potensi longsor masih mengancam wilayah tersebut.
Kepala Desa Banaran Sarnu mengatakan, saat ini masih ada sekitar empat hektare lahan bekas longsor yang hingga saat ini kondisinya mengkhawatirkan.
Lokasinya berada di kawasan tebing yang ambrol, tepatnya di sektor A pencarian. Saat kemarau lalu, telah terjadi rekahan tanah di lokasi tersebut.
āRekahan ini sewaktu-waktu bisa menyebabkan terjadinya longsor. Kalau hujan mulai rutin mengguyur seperti sekarang kita sudah melihat mulai terjadi longsor kecil di tebing itu. Ambles karena kondisi tanahnya labil,ā ujarnya.
Menurutnya pihak desa telah menghimbau warga untuk mewaspadai titik-tik yang rawan longsor itu. Selain sekitar tebing, yang harus diwaspadai adalah zona aliran longsor di mana tanahnya rawan ambles karena berada di dekat sumber air.
Sarnu menambahkan, warga sendiri sebetulnya sudah mengetahui area mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak.
āPada daerah yang tidak aman sudah banyak ditanami tanaman keras untuk mencegah terjadi kikisan. Sedangkan lahan yang aman sudah banyak yang ditanami jagung, jahe dan lainnya,ā imbuh Sarnu, dilansir beritajatim.
Longsor di Desa Banaran terjadi pada Sabtu (1/4/2017). Sebanyak 29 warga Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, sempat dinyatakan hilang tertimbun tanah. Material tanah, batu dan pepohonan menutupi tiga dusun dan menimbun kebun, jalan dan rumah warga beserta para penghuninya.





