Terorisme Harus Ditangkal Sebelum Terlanjur

Aksi teror menimbukan malapetaka dan kesengsaraan, harus dilawan bersama-sama

TERMINOLOGI di bidang kesehatan yakni “Aksi pencegahan lebih baik ketimbang  penyembuhan” agaknya berlaku pula bagi upaya menangkal gerakan radikal,  sebelum mereka menanamkan kukunya dalam-dalam, menebar teror.

Baru-baru ini terungkap, sel-sel atau jaringan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) sudah menyebar di 16 wilayah Indonesia, sehingga dikhawatirkan aktif setiap saat, untuk mengalihkan  kegiatan mereka jika terdesak dari suatu wilayah.

Sudah empat pekan berlalu sejak kelompok Maute yang berafiliasi dengan NIIS menguasai dan menyandera ratusan warga Marawi, Pulau Mindanao, Filipina, namun belum ada tanda-tanda, tentara Filipina yang didukung pengeboman dari udara dan bantuan teknis dari militer AS bisa merebutnya kembali.

Guna mencegah rembesan combatant Maute dan NIIS ke wilayah terluar Indonesia, aparat kepolisian bersama TNI terus mengingatkan penduduk di wilayah yang berbatasan langsung dengan Pulau Mindanao.

TNI-AL telah menyiagakan enam kapal perang termasuk kapal selam dan satuan marinir guna meningkatkan pengamananan, khususnya di sekitar Pulau Miangas dan Marore di propinsi Sulawesi Utara yang lokasinya berdekatan dengan Marawi.

Selain berdekatan secara geografis, tali-temali interaksi hubungan antara anggota kelompok Maute dengan warga Indonesia, menurut Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) Sidney Jones, juga terjalin baik.

Jones menuturkan, salah seorang pendiri kelompok Maute – sebelumnya bernama Khilafah Islamiyah Minanao (KIM) – Omarkhayam Romato Maute menikahi perempuan Indonesia bernama Minhati Madrais.

Omarkhayam adalah pendukung pimpinan NIIS di Mindanao Isnilon Hapilon yang sedang diburu militer Filipina.  Sekembali dari menimba ilmu agama di Mesir pada 2009, ia  pernah mengajar di pesantren milik keluarga isterinya, Minhati di Bekasi, luar kota Jakarta.

Aksi-aksi teror NIIS di Indonesia sejauh ini juga sudah berkali-kali dilakukan walau korbannya relatif kecil dibanding dengan yang  mereka lancarkan di Timur Tengah.

Selama 2016 a.l. tercatat peristiwa bom di Jl. MH Thamrin (14 Jan.),  bom bunuh diri di Polresta Solo (5 Juli),  pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda (13 Nov) dan  tertangkapnya calon pembom bunuh diri Novia Juli dekat Istana Negera (11 Des.).

Pada 2017 perisistiwa bom panci di Pendawa, Bandung (27/2), bom bunuh diri di Kp. Melayu, Jaktim  (24/5) dan tertangkapnya dua pendukung NIIS di Bandung (7/6).

Selain kelompok NIIS yang berniat mengubah Indonesia menjadi negara khilafah, bergabungnya politisi dan pejabat korup dengan para tokoh garis keras  untuk    mengkapitalisasi agama dan menghasut umat dengan isu-isu sensitif , juga bisa menyulut perpecahan bangsa .

Sebelum “penyakit” menggerogoti tubuh dan menjalar ke stadium lebih serius sehingga melumpuhkan sendi-sendi persatuan bangsa, tindakan tegas pemerintah untuk mencegah segala bentuk radikalisme  harus dilakukan .

Pencegahan aksi radikalisme dan terorisme sejak dini perlu ditanamkan sejak dini melalui pemahaman toleransi pada anak dan di tengah keluarga, di lingkungan tempat tinggal dan program pendidikan berjenjang.

Benih-benih intoleransi dan paham radikalisme termasuk yang berasal dari NIIS  harus segera dibasmi dari negeri ini.

 

 

 

 

Advertisement