Terpanggang Cuaca Ekstrem

Daerah pertanian di Indoa menjadi kering kerontang, penduduk kesulitan mendapatkan air bersih.

ORANG Indonesia memaknai, musim panas maksudnya ya musim kemarau, akibat lama tak turun hujan menjadikan udara panas. Tapi untuk manca negara seperti India, cuaca gelombang panas yang dimaksudkan adalah cuaca ekstrem yang menyebabkan suhu udara sampai 40 derajat celsius (DC). Selama 30 tahun terakhir di India, 24.000 rakyatnya tewas terpanggang gelombang panas yang ekstrem.

Gelombang panas yang melanda India, ternyata dirasakan juga oleh sejumlah negara. Misalnya Tunisia di Afrika Selatan (47-53 DC), Amerika Serikat bagian selatan (48 DC) dan sejumlah negara di Eropa, termasuk Itali (44-48 DC). Berbagialah Indonesia, terbebas oleh gelombang panas tersebut. Jika terjadi panas sehingga banyak orang kepanasan, hanyalah suhu politik menjelang Pilpres 2024. Atau juga orang kepanasan di hatinya, karena tetangga bisa beli ini itu, ada  Menpora masih begitu muda punya harta Rp 282 miliar.

Paling mengerikan memang India. Hampir setiap tahun gelombang panas menyerang negeri martabak tersebut. Di tahun 2023 bisa disebut paling parah, bagaikan sudah jatuh ditimpa tangga pula. Bagaimana tidak?  Pandemi Corona baru saja usai dengan korban tewas mencapai 190.000 jiwa, eh datang bencana alam langganan gelombang panas dengan menewaskan 166 orang. Terparah di dua negara bagian terpadat, yaitu di Uttar Pradesh dan Bihar. Bahkan diberitakan, jalanan beraspal ikut meleleh akibat panasnya cuaca.

Suasana mencekam kini terasa di sejumlah rumah sakit di India akibat gelombang panas ekstrem. Rumah Sakit kini mulai kewalahan dengan lonjakan pasien pada pertengahan Juni lalu (19/6). Kondisi di rumah sakit semakin diperparah dengan pemadaman listrik secara rutin. Salah satunya dapat dilihat di rumah sakit terbesar di Distrik Ballia Uttar Pradesh, yang tidak sanggup lagi menampung lebih banyak pasien. Kamar mayat bahkan sudah sesak setelah 54 orang meninggal karena gelombang panas. Keluarga diminta untuk segera membawa pulang jenazah kerabatnya.

Beda dengan Tunisia di Afrika Utara, meski mengalami musim panas ekstrem juga, tapi alhamdulillah tak sampai makan korban. Menghindari suhu udara sampai 47-53 DC warga Tunisia memilih berendam di pantai seharian. Cuaca panas di luar ruangan membuat kulit merasa panas seperti tertusuk. Tak terkecuali turis internasional memilih berendam di pantai. Pantai di Tunisia sendiri dapat dimasuki wisatawan secara gratis, namun ada pula pantai yang berbayar.

Salah satu pantai favorit itu terletak di Bizarte Bounta. Menuju lokasi dapat ditempuh dengan waktu 30 menit hingga 1 jam perjalanan dari pusat kota. Di sini terlihat banyak warga berendam di bibir pantai hingga ke tengah pantai. Tidak hanya orang dewasa, anak kecil juga terlihat berendam di pantai, mereka terlihat berkumpul membentuk lingkaran sambil berbincang. Biasanya warga mulai berendam pada pukul 9 pagi hingga 7 malam.

Negara Meksiko yang terletak di pinggang benua Amerika, juga terkena gelombang panas. Sebanyak 112 orang warganya tewas akibat ‘terpanggang’ cuaca panas ekstrem yang mencapai 30-45 DC. Sejumlah negara di Amerika Latin memang tengah menghadapi serangkaian gelombang panas dengan rekor suhu tinggi. Di mana lebih dari 1.000 laporan masuk terkait hal ini. Penyebab utama kematian warga adalah serangan panas yang diikuti oleh mencret-mencret. Wilayah Utara Meksiko melaporkan kematian terbanyak berada pada negara bagian timur laut Nuevo Leon sebanyak 64 orang, dan di negara tetangga Tamaulipas sebanyak 19 orang.

Negara bagian AS yang berada bersinggungan dengan Meksiko juga terdampak.
AS mengumumkan sedikitnya 13 orang akibat gelombang panas ekstrem di sana dua pekan terakhir. Pejabat menyatakan korban tewas terbanyak berada di Webb County, Texas, dekat perbatasan Meksiko dengan 11 korban jiwa. Beberapa hari terakhir, suhu di beberapa kota AS bagian selatan terasa seperti 45 derajat Celsius. Panas ekstrem itu bahkan membuat trotoar di Houston retak. Pihak berwenang sampai mendirikan pusat pendinginan di kota berpenduduk 2,3 juta jiwa itu.

Bangsa Eropa dan Amerika selama ini suka berlama-lama menjadi wisman (wisatawan manca negara) di Indonesia, khususnya di Bali, juga karena berburu hawa panas. Tapi ketika oleh Allah Swt dikaruniai panas over dosis, kelabakan juga. Dulu mereka merelakan ribuan dolarnya untuk mencari panas di Indonesia, kini malah dikasih gratis meskipun akhirnya bikin kritis.

Karena banyaknya orang asing berjemur di Pantai Kuta, munculah joke beru bahwa di pantai Kuta banyak ditemukan sumur berjalan. Lho kok? Ternyata maksudnya, sumur itu akronim: susu dijemur. Maklum, turis orang Barat di pantai Kuta tanpa malu-malu kaum wanitanya berjemur dengan telanjang dada. Sampai-sampai ustadz KH Sopandi dari Semarang bilang, “Sumur di pantai Kuta itu dilihat dosa, tapi tak dilihat kok jadi mubadzir……” (Cantrik Metaram)

 

Advertisement