Terpisah dari Ibu dan Ayah Ditembak Mati, Anak Rohingya ini Sebatang Kara

Saddam Hossain/ AA

BANGLADESH – Hari-hari Saddam Hossain dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang orang tuanya. Dia belajar di sebuah sekolah Islam di Myanmar. Dia punya banyak teman sekelas dan teman bermain. Tapi kemudian, bencana kemanusiaan telanh mendadak mengubah segalanya.

Saddam (10) mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa ayahnya ditembak mati oleh militer Myanmar.

“Ketika ayah saya ditembak mati oleh tentara, setelah itu saya melarikan diri dengan ibu saya, tapi saya kehilangan dia di perbatasan,” katanya.

Dia melintasi perbatasan dengan Muslim Rohingya lainnya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, satu dari 421.000 orang Rohingya yang telah menyeberang dari negara bagian Rakhine barat Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus.

Dia sekarang tinggal di kamp pengungsi Nayapara. Saddam menyaksikan adegan mengerikan tentara melemparkan obor ke rumah untuk membakar mereka.

Menurut gambar satelit, 214 desa di Rakhine sebagian besar telah hancur selama bulan lalu, seperti dikatakan Human Rights Watch pada hari Selasa.

Saddam tampaknya masih shock, karena ia telah mengalami trauma besar.

Dia belum sepenuhnya mengerti bahwa ada sesuatu yang salah. Yang dia perhatikan adalah dia tinggal dengan banyak orang Rohingya di sebuah ruangan yang sangat kecil.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi keamanan baru di mana pasukan keamanan dan gerombolan Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah, dan membakar desa Rohingya.

Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Advertisement